El Nino Mengancam Indonesia, IDAI Peringatkan 4 Dampak Kesehatan Serius pada Anak
Rabu, 20 Mei 2026 06:04 WIB
Kabarmalam.com — Bayang-bayang fenomena iklim El Nino kini tengah menghantui wilayah Indonesia, membawa ancaman kekeringan ekstrem yang perlu diwaspadai oleh seluruh lapisan masyarakat. Di tengah persiapan menghadapi musim kemarau yang lebih panas ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan peringatan keras bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap gempuran perubahan iklim tersebut.
Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, dr. Darmawan Budi Setyanto, SpA, Subsp Respi(K), mengungkapkan bahwa kerentanan anak-anak bukan tanpa alasan. Faktor biologis menjadi penyebab utama mengapa tubuh mungil mereka lebih sulit beradaptasi dibandingkan orang dewasa. Sistem imun yang belum matang membuat benteng pertahanan tubuh anak cenderung lebih lemah.
“Semakin muda usia seorang anak, maka tingkat kerentanannya semakin tinggi. Berbeda dengan remaja yang kondisi fisiknya sudah mulai mendekati dewasa, anak-anak kecil memiliki metabolisme dan laju napas yang lebih cepat,” terang dr. Darmawan dalam sebuah pemaparan daring baru-baru ini.
Menurutnya, karena anak-anak menghirup udara lebih banyak dibandingkan rasio berat badannya, mereka berpotensi terpapar polutan dalam jumlah yang lebih besar. Selain itu, ketidakmampuan tubuh anak dalam mengatur suhu secara efisien meningkatkan risiko fatal akibat cuaca ekstrem. Berikut adalah empat dampak serius yang harus diantisipasi oleh para orang tua demi menjaga kesehatan anak:
1. Ancaman Diare dan Krisis Air Bersih
Saat El Nino melanda, kekeringan hebat sering kali menyebabkan sumber air menyusut dan tercemar. Kondisi ini menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi bakteri berbahaya seperti E.coli, Salmonella, hingga Vibrio cholerae. dr. Darmawan bahkan menyebut istilah ‘El Nino Godzilla’ untuk menggambarkan fenomena yang sangat kuat, di mana sanitasi memburuk drastis karena kelangkaan air bersih. Penurunan kualitas kebersihan lingkungan ini memicu ledakan kasus penyakit diare yang bisa berujung fatal jika tidak segera ditangani.
2. Pneumonia: Ancaman pada Paru-paru yang Sedang Tumbuh
Tidak banyak yang menyadari bahwa kekeringan juga berkorelasi erat dengan meningkatnya risiko pneumonia atau radang paru-paru. Pada anak di bawah usia lima tahun, paru-paru masih berada dalam fase tumbuh kembang yang krusial. Paparan debu, polutan, dan infeksi mikroba saat musim kering dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sistem pernapasan mereka. Pneumonia dan diare sering kali menjadi ‘duet maut’ yang menyumbang angka kematian anak cukup tinggi saat krisis iklim terjadi.
3. Kegawatdaruratan Dehidrasi
Suhu udara yang melonjak tajam bukan sekadar masalah kenyamanan. Bagi anak-anak, panas ekstrem adalah ancaman langsung berupa dehidrasi, mulai dari tingkat ringan hingga berat. dr. Darmawan menegaskan bahwa kondisi ini termasuk dalam kategori gawat darurat medis. Tanpa asupan cairan yang cukup dan penanganan yang tepat, sengatan panas (heatstroke) dapat mengancam nyawa dalam waktu singkat. Orang tua diminta untuk lebih peka mengenali gejala dehidrasi pada buah hati mereka.
4. Lonjakan Kasus Demam Berdarah dan Malaria
Mungkin terdengar kontradiktif, namun kelangkaan air saat El Nino justru bisa memicu peningkatan penyakit yang ditularkan melalui vektor (vector-borne diseases). Nyamuk pembawa virus, seperti Aedes aegypti, cenderung mencari genangan air yang terisolasi dan jernih di dalam wadah-wadah penampungan air warga saat sumber air alami mengering. Kondisi ini mempercepat perkembangbiakan nyamuk, sehingga risiko penularan penyakit demam berdarah dan malaria justru meningkat di tengah cuaca panas.
Menghadapi tantangan ini, kesiapan orang tua dalam menjaga hidrasi, kebersihan pangan, serta perlindungan dari gigitan nyamuk menjadi kunci utama. El Nino bukan sekadar fenomena cuaca, melainkan ujian bagi ketahanan kesehatan keluarga Indonesia.