Ikuti Kami
kabarmalam.com

Mengenal Runner’s Trot: Mengapa Perut Sering ‘Berontak’ Saat Sedang Asyik Berlari?

Wahid | kabarmalam.com
Sabtu, 30 Mei 2026 05:34 WIB
Mengenal Runner’s Trot: Mengapa Perut Sering 'Berontak' Saat Sedang Asyik Berlari?

Kabarmalam.com — Bayangkan Anda sedang berada di tengah lintasan maraton, adrenalin sedang memuncak, dan garis finish tinggal beberapa kilometer lagi. Namun, tiba-tiba ada ‘panggilan alam’ yang tidak bisa dinegosiasikan. Perut terasa melilit, dan fokus seketika buyar hanya untuk mencari keberadaan toilet terdekat. Fenomena ini nyata, menyebalkan, dan bagi banyak orang, terasa memalukan.

Kondisi mendadak mulas atau ingin buang air besar (BAB) saat sedang berolahraga intensitas tinggi bukanlah sekadar sugesti atau rasa gugup belaka. Dalam dunia medis, gangguan ini dikenal dengan istilah Runner’s Trot. Masalah pencernaan ini sering kali menghantui para pegiat olahraga endurance, mulai dari tingkat half marathon hingga full marathon.

Bukan Sekadar Mitos, Ini Fakta Medisnya

Dokter spesialis olahraga, dr. Antonius Andi Kurniawan, SpKO, menjelaskan bahwa fenomena ini memiliki nama ilmiah exercise-induced gastrointestinal distress. Menurutnya, hal ini adalah kondisi yang sangat umum namun jarang dibicarakan secara terbuka karena dianggap tabu oleh sebagian besar pelari.

“Ini adalah fenomena yang dialami oleh sekitar 30 hingga 50 persen pelari jarak jauh. Sayangnya, banyak yang memilih diam karena merasa ini hal yang memalukan, padahal ada penjelasan medis yang sangat logis di baliknya,” ungkap dr. Andi saat memberikan penjelasan mendalam mengenai kondisi ini.

Baca Juga  Sisi Gelap Sepak Bola: Camilla Bresciani Jadi Sasaran Perundungan Usai Kegagalan Timnas Italia

Tiga Pemicu Utama ‘Huru-hara’ di Usus

Setidaknya ada tiga faktor utama yang berkolaborasi menyebabkan perut seorang pelari menjadi ‘kacau’ saat sedang beraksi di lintasan:

  • Splanchnic Ischemia (Kurangnya Aliran Darah ke Usus): Saat kita melakukan olahraga lari dengan intensitas tinggi, tubuh secara otomatis mengalihkan aliran darah dari sistem pencernaan menuju otot-otot yang sedang bekerja keras dan kulit (untuk membantu mendinginkan suhu tubuh). Aliran darah ke usus bahkan bisa merosot hingga 80 persen. Akibatnya, usus kekurangan oksigen, menjadi lebih sensitif, dan sistem pergerakannya (motilitas) menjadi berantakan.
  • Mechanical Jostling (Guncangan Mekanis): Gerakan lari yang berulang-ulang menciptakan guncangan pada organ dalam. Dalam satu kali maraton, seorang pelari bisa melakukan lebih dari 40.000 langkah. Bayangkan organ pencernaan Anda ‘dikocok’ sebanyak itu; agitasi mekanis ini sangat signifikan memicu keinginan untuk segera ke toilet.
  • Perubahan Hormonal: Aktivitas fisik yang berat memicu lonjakan hormon katekolamin atau adrenalin serta hormon motilin. Hormon-hormon ini secara langsung merangsang kontraksi pada usus, yang mempercepat proses pembuangan.
Baca Juga  Darurat Pangan Sehat: Studi CISDI Temukan 90 Persen Produk Kemasan di Indonesia Tinggi Gula, Garam, dan Lemak

Dilema Pelari: Lanjut atau Berhenti?

Ketika mulas melanda di tengah race lari, pelari sering dihadapkan pada dua pilihan sulit: tetap memaksakan diri hingga finish dengan menahan sakit, atau memutuskan untuk Did Not Finish (DNF) demi menuju toilet. Menurut dr. Andi, kedua pilihan tersebut adalah keputusan pribadi yang valid dan sangat bergantung pada kondisi fisik masing-masing individu.

Namun, sebagai pakar kesehatan olahraga, ia menekankan pentingnya mendengarkan sinyal tubuh. Ada beberapa tanda bahaya atau ‘red flags’ yang mengharuskan seorang pelari untuk segera berhenti total, bukan sekadar menurunkan kecepatan.

Kapan Anda Harus Benar-benar Berhenti?

Jangan sepelekan sinyal tubuh jika Anda mengalami hal-hal berikut saat berlari:

  1. Darah pada Tinja: Jika muncul warna merah segar atau hitam pekat seperti aspal, ini bisa menjadi indikasi ischemic colitis, sebuah komplikasi serius pada usus.
  2. Nyeri Perut Hebat: Bukan sekadar kram biasa, melainkan rasa sakit yang menusuk dan tak kunjung hilang.
  3. Gejala Neurologis: Pusing berat, pandangan berkunang-kunang, atau merasa ingin pingsan.
  4. Dehidrasi Berat: Ditandai dengan urine yang sangat pekat atau justru berhenti berkeringat meskipun cuaca panas.
  5. Demam atau Muntah: Tubuh memberikan sinyal adanya infeksi atau gangguan sistemik yang lebih parah.
Baca Juga  IDAI: Ancaman Campak dan Difteri Jauh Lebih Mendesak Dibanding Isu Hantavirus

“Selama tidak ada tanda-tanda bahaya tersebut, secara medis mungkin tidak mengancam jiwa. Namun, mengejar podium atau catatan waktu terbaik dengan mengabaikan sinyal kritis dari tubuh adalah sebuah pertaruhan yang sangat berisiko,” tutup dr. Andi mengingatkan para komunitas lari.

Memahami tubuh sendiri adalah kunci utama dalam berolahraga. Runner’s trot mungkin menyebalkan, namun dengan persiapan nutrisi yang tepat sebelum race dan pemahaman medis yang baik, risiko ini bisa diminimalisir agar Anda tetap bisa berlari dengan nyaman hingga garis finish.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid