Darurat Pangan Sehat: Studi CISDI Temukan 90 Persen Produk Kemasan di Indonesia Tinggi Gula, Garam, dan Lemak
Kamis, 30 Apr 2026 08:34 WIB
Kabarmalam.com — Di balik deretan kemasan menarik yang menghiasi rak minimarket, tersimpan kenyataan pahit yang mengancam kesehatan masyarakat. Sebuah laporan terbaru dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengungkapkan fakta yang mengkhawatirkan: sembilan dari sepuluh produk makanan kemasan di Indonesia terdeteksi mengandung kadar gula, garam, dan lemak (GGL) yang melampaui batas aman.
Studi kolaboratif yang dilakukan bersama Center for Health and Nutrition Education, Counseling, and Empowerment (CHeNECE) Universitas Airlangga ini membedah profil nutrisi dari 8.077 sampel produk. Data tersebut dikumpulkan dari berbagai ritel modern di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, hingga Makassar. Hasilnya? Sekitar 90 hingga 95 persen produk yang beredar dikategorikan tidak sehat menurut standar internasional.
Lingkungan Pangan yang Mematikan secara Perlahan
Temuan ini memberikan perspektif baru bahwa tingginya angka obesitas dan penyakit tidak menular di Indonesia bukan semata-mata karena kesalahan pilihan individu. Sebaliknya, masyarakat seolah terjebak dalam ekosistem pangan yang didesain untuk mendorong konsumsi produk tidak sehat secara sistematis.
Muhammad Zulfiqar Firdaus, Health Economics Research Associate CISDI, menekankan bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan edukasi semata. “Masyarakat kita hidup dalam lingkungan pangan yang didominasi oleh asupan tinggi gula, garam, dan lemak. Ini adalah masalah desain sistem yang perlu segera diperbaiki melalui kebijakan yang lebih ketat,” tegasnya.
Selain tingginya GGL, studi ini juga menyoroti penggunaan pemanis non-gula yang masif. Meski sering dianggap sebagai alternatif, konsumsi pemanis jenis ini dalam jangka panjang tetap membawa risiko kesehatan yang signifikan jika tidak diawasi dengan benar.
Kritik Terhadap Standar Nutri-Level Indonesia
Salah satu poin krusial dalam penelitian ini adalah perbandingan antara Model Profil Gizi internasional (seperti standar WHO) dengan sistem Nutri-Level yang tengah dikembangkan di Indonesia. Menariknya, terdapat selisih angka yang cukup lebar.
Jika menggunakan standar internasional, hampir seluruh produk kemasan dinyatakan tidak sehat. Namun, dengan ambang batas Nutri-Level versi domestik, hanya sekitar 73 persen produk yang masuk kategori merah. Perbedaan ini memicu kekhawatiran dari para ahli mengenai efektivitas kebijakan di masa depan.
“Ketepatan ambang batas sangat menentukan seberapa efektif suatu regulasi. Jika standar yang ditetapkan terlalu longgar, maka banyak produk berbahaya yang tetap akan melenggang bebas tanpa identifikasi yang jelas bagi konsumen,” ujar Trias Mahmudiono, Direktur CHeNECE sekaligus Guru Besar FKM Universitas Airlangga.
Perlu Intervensi Kebijakan yang Tegas
Menghadapi ancaman malnutrisi ganda—di mana stunting dan obesitas terjadi secara bersamaan—para peneliti mendesak pemerintah untuk melakukan intervensi yang lebih berani terhadap industri pangan. Beberapa rekomendasi yang muncul antara lain:
- Penerapan label nutrisi yang lebih transparan dan mudah dipahami di bagian depan kemasan.
- Pengetatan regulasi iklan makanan tidak sehat, terutama yang menargetkan anak-anak.
- Penerapan cukai pada produk dengan kadar gula tinggi untuk menekan angka konsumsi.
Laporan ini menjadi pengingat keras bagi kita semua. Bahwa setiap suapan dari produk kemasan yang kita konsumsi sehari-hari bisa jadi merupakan langkah menuju krisis kesehatan masyarakat yang lebih besar di masa depan, kecuali ada perubahan kebijakan yang fundamental dari pemangku kepentingan.