Menembus Titik Didih: Kisah Peneliti RI Temukan Thermus javaensis, Bakteri “Abadi” dari Geiser Cisolok
Kamis, 28 Mei 2026 08:34 WIB
Kabarmalam.com — Di balik kepulan uap panas yang membubung dari Geiser Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, tersimpan sebuah rahasia biologi yang luar biasa. Tim peneliti asal Indonesia berhasil mengidentifikasi sebuah spesies bakteri unik bernama Thermus javaensis. Bukan sembarang kuman, bakteri ini memiliki kemampuan fantastis untuk bertahan hidup di lingkungan yang suhunya mencapai titik didih manusia, sebuah penemuan yang membuka cakrawala baru bagi dunia sains global.
Kabar membanggakan ini resmi mendunia setelah hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal internasional bergengsi, Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology pada tahun 2026. Sosok di balik keberhasilan ini adalah Prof. Dra. Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc, PhD, seorang pakar mikrobiologi dari Universitas Indonesia, yang memimpin proses panjang pengungkapan identitas mikroba tangguh ini.
Penghuni Geiser Satu-satunya di Indonesia
Prof. Wellyzar menjelaskan bahwa Thermus javaensis masuk dalam kategori bakteri termofilik ekstrem. Habitat aslinya di Geiser Cisolok bukanlah tempat yang ramah bagi makhluk hidup pada umumnya. Suhu di sana konsisten berada pada level yang sangat tinggi, bahkan menyentuh angka 100 derajat Celsius.
“Ini adalah bakteri yang benar-benar tahan panas. Di Geiser Cisolok, suhunya bisa mencapai 100 derajat, dan perlu diketahui bahwa ini adalah satu-satunya geiser di Indonesia yang memiliki karakteristik suhu seekstrim itu,” ungkap Prof. Wellyzar dalam sebuah wawancara eksklusif.
Perjuangan 12 Tahun di Balik Mikroskop
Menemukan spesies baru bukanlah perkara membalik telapak tangan. Penemuan ini merupakan buah dari ketekunan selama lebih dari satu dekade. Penelitian ilmiah di lokasi tersebut sebenarnya telah dimulai sejak 12 tahun yang lalu, sementara upaya isolasi bakteri pertama kali dilakukan pada tahun 2015.
Tantangan terbesar muncul saat tim mencoba membiakkan bakteri ini di laboratorium. Karena terbiasa hidup di lingkungan panas, Thermus javaensis memiliki suhu optimal pertumbuhan di angka 65 derajat Celsius. Hal ini membuat peralatan laboratorium standar kewalahan.
“Isolasinya sangat sulit. Kami membutuhkan inkubator khusus yang mampu menjaga suhu tetap tinggi secara stabil. Selain itu, medium agar yang biasa digunakan untuk membiakkan bakteri justru meleleh pada suhu tersebut. Kami harus memutar otak dan menggunakan medium khusus agar bakteri ini bisa tetap hidup dan diteliti di lingkungan lab,” tambahnya menjelaskan kerumitan proses tersebut.
Emas Hitam bagi Industri dan Kecantikan
Lantas, apa yang membuat Thermus javaensis begitu istimewa? Jawabannya terletak pada enzim yang dihasilkannya. Karena terlahir di lingkungan panas, enzim-enzim dari bakteri ini memiliki stabilitas termal yang luar biasa—artinya mereka tidak rusak meski bekerja di suhu tinggi.
Enzim karbohidrase yang dihasilkan bakteri ini, misalnya, memiliki nilai ekonomi sangat tinggi. Dalam dunia industri pangan dan fermentasi, enzim ini mampu memecah karbohidrat kompleks menjadi senyawa sederhana dengan efisiensi yang jauh lebih baik.
Tak berhenti di situ, potensi Thermus javaensis merambah hingga ke dunia estetika. Di luar negeri, kerabat dari genus Thermus telah lama digunakan dalam produk perawatan kulit premium sebagai agen anti-aging. Bakteri ini diketahui mampu memicu produksi kolagen alami pada kulit manusia karena sifat adaptasi panasnya yang unik.
Menyusul Jejak Teknologi PCR Dunia
Dunia sains tentu mengenal teknologi PCR yang vital bagi dunia kedokteran. Teknologi tersebut sangat bergantung pada enzim Taq DNA polymerase yang diambil dari bakteri Thermus aquaticus asal Amerika Serikat. Kehadiran Thermus javaensis memberikan harapan bahwa Indonesia suatu saat nanti bisa mandiri dalam memproduksi teknologi serupa berbasis kekayaan mikroba lokal.
“Di Indonesia sebenarnya kaya akan mikroba, namun proses untuk mengkarakterisasi dan membuktikan mereka sebagai spesies baru memang butuh waktu lama. Kami menghabiskan waktu dua tahun hanya untuk pengumpulan data genetik dan genom,” tutup Prof. Wellyzar.
Penemuan ini menjadi bukti nyata bahwa kekayaan alam Indonesia tidak hanya berupa pemandangan yang indah, tetapi juga harta karun mikroskopis yang siap merevolusi dunia kesehatan, lingkungan, hingga industri kosmetik di masa depan.