Ikuti Kami
kabarmalam.com

Ancaman Serangan Jantung di Usia Muda: Pakar FKUI Beberkan Risiko dan Inovasi Terapi Sel Punca

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 17 Mei 2026 08:34 WIB
Ancaman Serangan Jantung di Usia Muda: Pakar FKUI Beberkan Risiko dan Inovasi Terapi Sel Punca

Kabarmalam.com — Bayangan bahwa penyakit jantung hanya menyerang mereka yang telah lanjut usia kini kian memudar. Fakta di lapangan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: serangan jantung pada kelompok usia produktif atau di bawah 40 tahun terus merangkak naik. Data dari Cardio Metabolic Institute mencatat bahwa saat ini, sekitar satu dari lima kasus serangan jantung justru terjadi pada mereka yang masih muda.

Meskipun usia muda sering dianggap sebagai masa keemasan fisik yang terlindungi, kenyataannya mereka tetap rentan terhadap risiko serangan jantung berulang hingga ancaman kematian jika faktor pemicu utamanya tidak dikelola dengan serius. Serangan jantung pada anak muda biasanya tidak muncul begitu saja, melainkan hasil akumulasi dari gaya hidup dan kondisi kesehatan yang terabaikan.

Pemicu Utama: Bukan Sekadar Faktor Usia

Banyak faktor yang berkelindan menjadi pemicu, mulai dari obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, hingga kadar kolesterol yang tidak terkontrol. Selain itu, kebiasaan modern seperti kurangnya aktivitas fisik, tingginya konsumsi ultra-processed food (UPF), stres kronis, serta pola tidur yang berantakan menjadi bahan bakar utama bagi kerusakan pembuluh darah. Jangan lupakan pula dampak buruk dari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebih.

Baca Juga  Perjuangan Song Min-ho WINNER Melawan Bipolar di Tengah Kemelut Hukum Wajib Militer

“Riwayat keluarga dengan penyakit jantung di usia dini juga memberikan kontribusi signifikan terhadap risiko seseorang,” ungkap sebuah laporan medis. Menariknya, para peneliti kini mulai mendalami kaitan antara komplikasi pasca-COVID-19 serta keberadaan mikroplastik dalam darah terhadap penurunan kesehatan jantung masyarakat modern.

Waspadai Gejala yang Sering Terabaikan

Tragisnya, banyak pasien muda yang terlambat mendapatkan penanganan medis. Mereka sering kali menyalahartikan gejala serangan jantung sebagai gangguan kesehatan ringan seperti pegal biasa, masuk angin, atau sekadar gejala asam lambung (GERD). Padahal, ada tanda-tanda krusial yang harus diwaspadai, antara lain:

  • Nyeri atau sensasi tertekan di area dada.
  • Rasa sakit yang menjalar ke rahang, leher, punggung, hingga lengan.
  • Gejala samar seperti munculnya keringat dingin secara tiba-tiba.
  • Rasa mual, pusing, dan kelelahan hebat tanpa alasan yang jelas.
Baca Juga  Bukan Sekadar Gerak, Intensitas Olahraga Ini Terbukti Ampuh Cegah 8 Penyakit Kronis

Analisis Medis: Apa yang Terjadi pada Otot Jantung?

Dr. dr. Dede Moeswir, seorang spesialis penyakit dalam konsultan kardiovaskular dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), menjelaskan bahwa serangan jantung bukan hanya kondisi darurat yang mengancam nyawa dalam hitungan menit. Bahaya jangka panjang yang mengintai adalah kerusakan permanen pada otot jantung yang bisa berujung pada kondisi gagal jantung.

Menurut dr. Dede, saat serangan terjadi, pembuluh darah yang bertugas menyuplai oksigen ke jantung mengalami penyumbatan total. Akibatnya, jaringan otot jantung mulai mengalami kematian sel. “Prosedur utama yang dilakukan adalah membuka kembali aliran darah melalui intervensi koroner perkutan, yang melibatkan penggunaan kawat khusus, balon, hingga pemasangan stent atau ring,” jelasnya dalam sebuah pemaparan ilmiah di YouTube MedicineUI.

Mengapa Kerusakan Tetap Terjadi Meski Sudah Dipasang Ring?

Satu hal yang jarang diketahui publik adalah fenomena cedera reperfusi. Dr. Dede mengungkapkan bahwa setelah aliran darah yang tersumbat dibuka kembali, terkadang muncul peradangan yang justru memperparah kerusakan otot jantung. Inilah yang menyebabkan sebagian pasien tetap mengalami penurunan fungsi pompa jantung meskipun sumbatan telah diatasi.

Baca Juga  Keadilan Bagi Calon Dokter: MA Perkuat Vonis 4 Tahun Penjara Oknum Dosen PPDS Anestesi UNDIP

Pasien dalam kondisi ini biasanya akan mudah merasa sesak napas, jantung berdebar, hingga mengalami pembengkakan pada bagian kaki. Menjawab tantangan tersebut, dr. Dede mengembangkan riset inovatif menggunakan sel punca mesenkimal (mesenchymal stem cell). Sel khusus ini memiliki kemampuan luar biasa untuk bertransformasi menjadi berbagai jenis sel tubuh, termasuk sel otot jantung yang baru.

“Melalui terapi sel punca ini, kami berharap area kerusakan pada otot jantung dapat diminimalisir sehingga kemampuan pompa jantung pasien bisa kembali membaik di masa depan,” pungkas dr. Dede. Meskipun penelitian ini membutuhkan waktu panjang untuk melihat efektivitasnya secara permanen, langkah ini menjadi titik terang bagi dunia kedokteran dalam menangani komplikasi berat akibat serangan jantung.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid