Ultimatum Keras Donald Trump: Iran Wajib Serahkan atau Musnahkan ‘Debu Nuklir’
Selasa, 26 Mei 2026 20:36 WIB
Kabarmalam.com — Ketegangan antara Washington dan Teheran kembali memuncak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melayangkan gertakan keras terkait cadangan uranium yang diperkaya milik Iran. Melalui sebuah pernyataan tajam di platform Truth Social, Trump memberikan pilihan sempit kepada Negeri Para Mullah tersebut: serahkan material nuklir itu ke tangan AS atau saksikan pemusnahannya secara total di bawah pengawasan internasional.
Isu yang dijuluki Trump sebagai “Debu Nuklir” ini muncul sebagai batu sandungan utama di tengah upaya diplomatik untuk meredam konflik yang telah berkecamuk sejak Februari lalu. Dalam narasinya yang lugas, Trump menuntut agar uranium hasil pengayaan tinggi tersebut segera diserahkan untuk dibawa pulang ke Amerika Serikat atau dihancurkan secara permanen guna memastikan keamanan global.
Opsi Penghancuran dan Pengawasan Ketat
Meski bersikap agresif, Trump masih membuka celah koordinasi. Ia menyarankan agar proses pemusnahan tersebut bisa dilakukan di lokasi yang disepakati secara bersama, dengan syarat harus ada saksi dari Komisi Energi Atom atau lembaga setara. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk memastikan bahwa Iran benar-benar melucuti potensi senjata nuklirnya secara transparan.
Langkah diplomasi berisiko tinggi yang diambil Donald Trump ini bertepatan dengan pembahasan alot mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Sebagai jalur nadi energi dunia, pembukaan selat tersebut menjadi imbalan yang ditawarkan Washington jika Teheran berkomitmen penuh memusnahkan cadangan uranium mereka. Meski laporan media AS menyebut kesepakatan awal mulai terbentuk, kenyataan di lapangan rupanya jauh lebih kompleks.
Sikap Skeptis Teheran dan Peran Mediator
Di balik optimisme Washington, Teheran justru menunjukkan sikap yang lebih dingin. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menepis klaim bahwa penandatanganan perjanjian sudah di depan mata. Walaupun mengakui adanya kemajuan signifikan dalam banyak poin diskusi, Baghaei menegaskan bahwa belum ada klaim pasti mengenai penyelesaian akhir yang bisa dipertanggungjawabkan saat ini.
Di tengah kebuntuan komunikasi langsung antara kedua negara, Pakistan muncul sebagai aktor kunci yang berupaya menjembatani perdamaian. Panglima Militer Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, dilaporkan tengah melakukan gerilya diplomatik hingga ke Beijing. Dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, Munir menyatakan bahwa kesepakatan antara AS dan Iran sebenarnya sudah “hampir tercapai”.
Pakistan kini menaruh harapan besar agar China bersedia mengambil peran lebih dominan dalam proses ini. Dunia kini menanti apakah gertakan nuklir Trump akan membuahkan hasil di meja perundingan, atau justru memicu eskalasi baru dalam dinamika geopolitik global yang semakin sulit ditebak.