Ambisi Nuklir Damai Indonesia: BRIN Gandeng Rosatom Perkuat Teknologi Masa Depan
Kamis, 14 Mei 2026 00:34 WIB
Kabarmalam.com — Langkah besar Indonesia menuju kedaulatan energi masa depan kian nyata. Menindaklanjuti arahan strategis Presiden Prabowo Subianto, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi mempererat sinergi dengan Rosatom, perusahaan nuklir raksasa asal Rusia. Pertemuan penting ini menjadi babak baru dalam penjajakan pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai, baik di sektor energi maupun non-energi.
Kepala BRIN, Arif Satria, menerima langsung kunjungan Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, di Jakarta. Pertemuan ini merupakan langkah konkret setelah sehari sebelumnya Presiden Prabowo menyambut Likhachev di Istana Negara untuk membahas potensi kolaborasi teknologi tinggi yang lebih mendalam.
Transformasi Energi dan Revitalisasi Fasilitas Riset
Arif menjelaskan bahwa BRIN memiliki mandat khusus untuk memastikan setiap tahap penjajakan teknologi nuklir berjalan dengan koordinasi antar-instansi yang solid. Hubungan RI dengan Rosatom bukanlah hal baru; rintisan kerja sama ini sebenarnya telah dipupuk sejak tahun 2006 dan kini mencapai titik krusial dalam peta jalan energi nasional.
Fokus utama kolaborasi ini akan diarahkan pada penguatan Joint Working Group atau Kelompok Kerja Gabungan. Tim ini akan bertugas menyiapkan implementasi energi nuklir skala besar, mulai dari penyusunan roadmap, pemilihan lokasi tapak yang ideal, pemilihan teknologi reaktor yang paling mutakhir, hingga pengelolaan siklus bahan bakar nuklir yang aman.
Tidak hanya terpaku pada pembangkit listrik, BRIN juga membidik modernisasi infrastruktur yang sudah ada. Salah satu prioritasnya adalah revitalisasi Reaktor Riset GA Siwabessy yang berlokasi di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong. Langkah ini mencakup peningkatan kapasitas riset, manajemen limbah radioaktif, hingga produksi elemen bakar secara mandiri.
Pemanfaatan Nuklir untuk Industri dan Kesehatan
Pemerintah juga melirik potensi High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR). Teknologi reaktor jenis ini dinilai sangat serbaguna karena selain menghasilkan listrik, panas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk produksi hidrogen hijau, desalinasi air laut, dan berbagai kebutuhan industri manufaktur lainnya. Hal ini sejalan dengan upaya Indonesia mengembangkan energi baru terbarukan dan berkelanjutan.
“Pemanfaatan radioisotop juga menjadi poin penting, terutama untuk kemajuan sektor kesehatan di Indonesia, seperti deteksi dini penyakit kronis dan terapi medis. Selain itu, teknologi iradiasi akan diperkuat untuk meningkatkan kualitas sektor pangan dan industri nasional,” ujar Arif Satria dalam keterangan resminya.
Pendekatan Sosiologis: Nuklir yang Transparan dan Humanis
Meski kecanggihan teknologi menjadi kunci, Arif menekankan bahwa keberhasilan adopsi energi atom di tanah air sangat bergantung pada faktor manusia. Ia menegaskan bahwa aspek sosial tidak boleh dikesampingkan dalam setiap tahapan pengembangan riset nasional ini.
“Penguasaan teknologi memang mutlak, namun pendekatan sosiologis sangat vital. Kita perlu memetakan sejauh mana penerimaan publik dan memitigasi dampak sosial-ekonomi yang mungkin muncul. Tujuannya agar penjajakan energi nuklir di Indonesia berjalan secara transparan, aman, dan tetap menjunjung nilai-nilai humanis,” tegasnya.
Sejarah mencatat bahwa Indonesia dan Rusia memiliki rekam jejak kerja sama teknis yang sangat solid. Mulai dari kolaborasi BATAN pada 2015, kerja sama regulasi antara BAPETEN dan Rostechnadzor pada 2017, hingga pengembangan kapasitas SDM melalui Poltek Nuklir pada 2020. Melalui momentum ini, BRIN berkomitmen untuk membawa warisan kerja sama tersebut ke level yang lebih tinggi demi masa depan teknologi Indonesia.