Duka Mendalam di Angeles City: Operasi Penyelamatan Gedung Ambruk Resmi Dihentikan
Selasa, 26 Mei 2026 18:04 WIB
Kabarmalam.com — Harapan tipis untuk menemukan tanda-tanda kehidupan di balik reruntuhan beton di Angeles City akhirnya pupus. Otoritas berwenang Filipina secara resmi menghentikan operasi pencarian dan penyelamatan pada Senin (25/05) malam, setelah tim teknis memastikan tidak ada lagi sinyal kehidupan yang terdeteksi di bawah puing-gedung sembilan lantai tersebut.
Memasuki hari Selasa (26/05), fokus petugas kini beralih sepenuhnya ke misi pemulihan jenazah. Langkah pahit ini diambil setelah berbagai upaya maksimal dilakukan, termasuk penggunaan alat pendeteksi kehidupan paling sensitif yang dimiliki tim evakuasi.
Harapan yang Sempat Membuncah
Sebelum keputusan berat ini diambil, secercah asa sempat muncul pada Senin pagi. Sensor termal yang digunakan oleh tim penyelamat dilaporkan menangkap “tanda-tanda panas” yang menyerupai suhu tubuh manusia di salah satu sudut reruntuhan. Namun, setelah berjam-jam penggalian manual dan hati-hati, hasil yang didapat nihil.
Maria Leah Sajili, petugas informasi dari Biro Pemadam Kebakaran regional, mengonfirmasi bahwa tidak ada korban selamat maupun jenazah baru yang ditemukan pasca deteksi tersebut. Sejauh ini, tragedi ini telah merenggut sedikitnya empat nyawa. Salah satu korban tewas diidentifikasi sebagai seorang wisatawan asal Malaysia yang tengah menginap di sebuah penginapan tepat di sebelah gedung nahas tersebut.
Kisah Memilukan dari Balik Layar Ponsel
Di balik angka-angka statistik korban jiwa, terselip kisah yang menyayat hati. Evelyn Alicaway, seorang remaja putri berusia 19 tahun, harus menerima kenyataan pahit lewat sebuah video yang viral di media sosial. Ia mengenali sosok ayahnya yang sedang ditarik dari tumpukan beton oleh tim penyelamat.
“Meskipun wajahnya dikaburkan, insting saya sebagai anak langsung tahu bahwa itu adalah ayah. Sangat menyakitkan melihatnya dalam kondisi seperti itu,” ungkap Evelyn dengan suara bergetar saat ditemui di pemakaman sang ayah.
Hingga saat ini, sekitar 16 orang masih dinyatakan hilang, yang mayoritas merupakan pekerja konstruksi. Maria Leah Sajili menyampaikan simpati mendalam kepada keluarga korban. “Kami telah mengerahkan segalanya untuk menyelamatkan nyawa. Namun sekarang, kita harus melangkah maju menuju proses selanjutnya,” ujarnya dalam konferensi pers.
Kronologi dan Dugaan Kelalaian
Bencana ini bermula ketika badai hebat menerjang wilayah Filipina pada Minggu (24/04) dini hari. Sekitar pukul 03.00 waktu setempat, bangunan sembilan lantai yang masih dalam tahap pengerjaan itu runtuh seketika. Kebanyakan korban adalah pekerja yang saat itu sedang beristirahat dan tidur di dalam lokasi proyek.
Investigasi kini diarahkan pada dugaan pelanggaran standar keselamatan. Departemen Tenaga Kerja Filipina mengungkapkan bahwa proyek ini sebenarnya memiliki rekam jejak yang buruk. Pada September sebelumnya, pekerjaan di lokasi ini sempat dihentikan paksa karena ditemukan pelanggaran serius terkait keselamatan kerja.
Geraldine Panlilio, Pejabat Dinas Tenaga Kerja Regional, menyebutkan bahwa para pekerja sebelumnya tidak dibekali peralatan dasar seperti helm, sabuk pengaman, hingga pencahayaan yang memadai. Meski proyek diizinkan berjalan kembali sebulan kemudian setelah kontraktor berjanji memperbaiki sistem, tragedi ini memicu tanda tanya besar mengenai pengawasan di lapangan.
Keluarga korban kini menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak perusahaan konstruksi. Rosenda, ibu dari Evelyn, menegaskan bahwa kompensasi dan koordinasi yang transparan adalah hal minimal yang harus dilakukan pemilik perusahaan di tengah duka yang mendalam ini.