Waspada! Pola Makan dan Obesitas Jadi Pemicu Kanker Payudara, Begini Pesan Pakar Onkologi
Senin, 25 Mei 2026 15:34 WIB
Kabarmalam.com — Fenomena kanker hingga kini masih menempati posisi puncak sebagai salah satu penyakit dengan angka mortalitas paling mengkhawatirkan di kancah global. Meski sering kali dikaitkan dengan faktor keturunan, para ahli medis kini semakin menyoroti betapa krusialnya peran pola makan sehari-hari dalam menentukan risiko seseorang terpapar penyakit mematikan ini.
Dalam sebuah diskusi mendalam di ajang The 6th Siloam Oncology Summit yang digelar di Jakarta Pusat, Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi, Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, SpPD-KHOM, membedah kaitan erat antara gaya hidup modern dengan kanker payudara. Menurutnya, meskipun penyebab pasti kanker bersifat multifaktoral, surplus kalori yang berujung pada kondisi obesitas menjadi salah satu ‘karpet merah’ bagi munculnya sel kanker.
Kaitan Erat Obesitas dan Risiko Kanker
Dr. Jeffry menjelaskan bahwa masalah obesitas bukan sekadar persoalan estetika atau berat badan semata, melainkan gangguan metabolik yang memiliki dampak sistemik. Data penelitian menunjukkan bahwa populasi wanita dengan berat badan berlebih memiliki kerentanan yang jauh lebih tinggi terhadap kanker payudara dibandingkan mereka yang menjaga berat badan ideal.
“Memang ada faktor genetik yang berperan, seperti mutasi gen BRCA. Namun, faktor lingkungan dan gaya hidup, terutama kegemukan, memiliki pengaruh yang sangat signifikan,” ujar Dr. Jeffry. Selain asupan kalori yang berlebihan, konsumsi alkohol yang tidak terkontrol juga disebut sebagai katalisator yang mempercepat risiko munculnya keganasan pada jaringan payudara.
Pentingnya Deteksi Dini: USG vs Mammografi
Menghadapi ancaman ini, deteksi dini menjadi senjata utama yang tidak bisa ditawar. Dr. Jeffry menekankan bahwa setiap wanita perlu melakukan pemeriksaan secara rutin, baik secara mandiri maupun klinis. Menariknya, prosedur pemeriksaan klinis dibedakan berdasarkan kategori usia guna mendapatkan hasil yang akurat.
- Usia di Bawah 40 Tahun: Disarankan melakukan pemeriksaan USG Mammae. Prosedur ini bersifat non-invasif dan menggunakan gelombang suara untuk memetakan kondisi jaringan payudara.
- Usia di Atas 40 Tahun: Mammografi menjadi pilihan utama. Teknologi ini menggunakan sinar-X dosis rendah yang mampu mendeteksi kelainan atau benjolan sekecil apa pun yang bahkan belum bisa dirasakan melalui perabaan manual.
Kabar baiknya, fasilitas pemeriksaan ini kini sudah tersebar luas. Dr. Jeffry menyebutkan bahwa alat USG dan mammografi kini sudah tersedia hingga ke kota-kota kecil di seluruh Indonesia, sehingga akses untuk menjalankan gaya hidup sehat dan pemeriksaan rutin semakin mudah dijangkau oleh masyarakat luas.
Menutup paparannya, ia mengingatkan bahwa langkah preventif selalu lebih baik daripada pengobatan. Mengatur pola makan, menghindari alkohol, dan menjaga berat badan adalah investasi jangka panjang untuk terhindar dari ancaman kanker payudara yang terus mengintai.