Ikuti Kami
kabarmalam.com

Garam Tak Selalu Asin: Menguak Bahaya Tersembunyi di Balik Lonjakan Kasus Hipertensi

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 25 Mei 2026 05:04 WIB
Garam Tak Selalu Asin: Menguak Bahaya Tersembunyi di Balik Lonjakan Kasus Hipertensi

Kabarmalam.com — Banyak orang merasa telah menjalani gaya hidup sehat dengan memangkas asupan camilan gurih, namun ironisnya, angka hipertensi atau tekanan darah tinggi tetap saja meroket. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada sebuah fakta medis yang sering terabaikan: tidak semua garam memberikan sensasi rasa asin di lidah.

Ancaman kesehatan yang sering disebut sebagai ‘silent killer’ ini kerap menyelinap melalui produk-produk yang kita konsumsi sehari-hari tanpa disadari. Prof. Dr. dr. Antonia Anna Lukito, SpJP(K), seorang spesialis jantung dan pembuluh darah dari Siloam Hospitals Lippo Village, mengungkapkan bahwa masyarakat sering terjebak dalam persepsi yang salah mengenai sumber natrium.

Garam yang ‘Bersembunyi’ di Balik Rasa Manis dan Segar

Menurut Prof. Antonia, banyak individu yang merasa sudah aman karena telah menghindari makanan asin, padahal tekanan darah mereka tetap berada jauh di atas ambang normal saat diperiksa. Hal ini disebabkan oleh molekul garam atau natrium yang memiliki fungsi beragam dalam industri pangan, tidak hanya sebagai pemberi rasa.

Baca Juga  Hati-hati! Kebiasaan Tidur Berantakan Ternyata Jadi 'Bom Waktu' bagi Kesehatan Jantung

“Jangan lupa, garam itu tidak selalu terasa asin. Banyak orang terjebak; mereka takut pada rasa asin sehingga hanya mengurangi garam dapur. Padahal, banyak bahan pengawet, penyedap rasa, bahkan minuman bersoda yang sebenarnya mengandung kadar garam tinggi,” jelas Prof. Antonia dalam sebuah kesempatan di Kabupaten Tangerang baru-baru ini.

Beliau menekankan pentingnya kewaspadaan ekstra, terutama dalam mencermati label gizi pada kemasan produk. Molekul natrium sering kali digunakan untuk menjaga keawetan makanan atau menyeimbangkan rasa, sehingga konsumen perlu lebih kritis terhadap apa yang mereka beli.

Berapa Batas Aman Konsumsi Garam?

Berdasarkan panduan dari Perhimpunan Hipertensi Indonesia (PERHI), asupan garam yang ideal sebaiknya dibatasi hanya sekitar 2,5 gram per hari. Namun, secara umum, Kementerian Kesehatan RI menetapkan aturan main dalam formula GGL (Gula, Garam, dan Lemak) untuk menjaga pola makan sehat masyarakat.

Baca Juga  Boba hingga Kopi Susu Jadi Target Utama, BPOM Beberkan Alasan Label 'Nutri-Level' Diprioritaskan

Setiap orang dewasa disarankan untuk tidak melebihi batas konsumsi harian sebagai berikut:

  • Garam: Maksimal 2.000 miligram natrium, atau setara dengan 5 gram (1 sendok teh) garam dapur.
  • Gula: 50 gram atau sekitar 4 sendok makan.
  • Lemak: 67 gram atau setara dengan 5 sendok makan minyak goreng.

Risiko Kesehatan yang Mengintai

Konsumsi natrium yang tidak terkontrol merupakan pemicu utama kenaikan tekanan darah. Jika dibiarkan, kondisi ini akan berkembang menjadi faktor risiko utama serangan penyakit jantung dan stroke, yang hingga kini masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia.

Selain masalah kardiovaskular, kelebihan garam juga dapat membebani kinerja ginjal, meningkatkan risiko pengeroposan tulang atau osteoporosis, serta memperburuk kondisi kesehatan kronis lainnya. Edukasi mengenai ‘garam tersembunyi’ ini diharapkan dapat membuat masyarakat lebih sadar bahwa menjaga kesehatan jantung bukan sekadar menghindari rasa asin, melainkan mengatur total asupan natrium secara menyeluruh.

Baca Juga  Indonesia Masuk Jajaran Elit WHO-Listed Authority: Pengakuan Dunia atas Standar Kesehatan Nasional
Tentang Penulis
Wahid
Wahid