Indonesia Masuk Jajaran Elit WHO-Listed Authority: Pengakuan Dunia atas Standar Kesehatan Nasional
Kamis, 21 Mei 2026 13:04 WIB
Kabarmalam.com — Panggung diplomasi kesehatan dunia di Jenewa, Swiss, baru saja mencatatkan sejarah baru bagi Indonesia. Dalam helatan bergengsi World Health Assembly (WHA) ke-79 yang berlangsung pada 18-23 Mei 2026, posisi Indonesia di mata internasional semakin diperhitungkan melalui pengakuan resmi sebagai anggota WHO-Listed Authority (WLA).
Pengumuman penting ini disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, saat memaparkan berbagai capaian krusial organisasi tersebut selama satu tahun terakhir. Indonesia terpilih bersama empat negara maju lainnya, yakni Australia, Kanada, Jepang, dan Inggris, untuk masuk dalam daftar otoritas regulatori yang diakui secara global.
Langkah Besar Menuju Standar Global
Penetapan sebagai bagian dari WHO-Listed Authority bukan sekadar label formalitas. Menurut Tedros, langkah ini diambil untuk mengakselerasi proses prakualifikasi dan pengadaan produk kesehatan di tingkat internasional. Dengan status ini, kapasitas sistem regulatori di Indonesia telah resmi diakui mampu menjamin keamanan, khasiat, hingga mutu produk kesehatan sesuai dengan standar ketat WHO.
Pencapaian ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa produk-produk farmasi dan kesehatan dari Indonesia memiliki daya saing yang setara dengan produk dari negara-negara besar. Kepercayaan ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kesehatan global yang lebih tangguh dan responsif.
Kolaborasi Demi Ketahanan Kesehatan di Global South
Di sela-sela agenda utama WHA, Pemerintah Republik Indonesia bersama Countries Vaccine Manufacturers Network dan berbagai mitra global juga menggelar forum strategis bertajuk “Advancing Local Production for Equitable Access, Resilient Health Systems, and Global Health Security”. Forum ini menjadi wadah diskusi bagi para pemimpin kesehatan dan produsen vaksin dunia untuk mendorong penguatan kapasitas produksi di level regional.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, yang hadir memberikan pernyataan kunci bertema “Strengthening Regional Vaccine Manufacturing and Trust in the Global South”, menekankan bahwa di tengah dinamika kesehatan yang terus berubah, kerja sama lintas negara adalah sebuah keniscayaan. “Dalam lanskap yang terus berkembang ini, kolaborasi bukan lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak,” tegas Taruna.
Sains dan Harmonisasi sebagai Kunci Kepercayaan
Taruna Ikrar juga menyoroti bahwa penguatan sistem regulasi yang berbasis pada bukti ilmiah (science-based) serta harmonisasi aturan internasional merupakan fondasi utama. Hal ini sangat krusial untuk mempercepat pengembangan vaksin serta menumbuhkan kepercayaan publik, terutama di negara-negara yang tergabung dalam Global South.
“Semangat inovasi dan sinergi kolektif inilah yang akan membawa negara-negara berkembang menuju kemandirian kesehatan yang lebih kokoh. Tujuan akhirnya jelas: peningkatan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat secara menyeluruh,” tambahnya menutup sesi tersebut. Dengan status WLA ini, BPOM kini mengemban tanggung jawab lebih besar untuk terus menjaga integritas dan standar regulasi demi keamanan pasien di dalam maupun luar negeri.