Jejak Perjuangan AA: Mahasiswi Yatim Piatu Korban Pembunuhan di Tol BORR Bogor yang Dikenal Dermawan
Minggu, 24 Mei 2026 16:03 WIB
Kabarmalam.com — Di balik tragedi memilukan yang menimpa AA, wanita yang ditemukan tak bernyawa setelah dilempar dari atas Tol BORR ke Jalan Raya Sholeh Iskandar (Sholis), Kota Bogor, tersimpan sebuah narasi perjuangan hidup yang menyayat hati. AA bukan sekadar korban pembunuhan di Bogor, ia adalah simbol ketangguhan seorang anak yatim piatu yang berjuang melawan kerasnya hidup demi meraih impian.
Sosok Mandiri yang Membiayai Kuliah Sendiri
Syamsudin (52), paman korban yang telah menganggap AA seperti anak kandungnya sendiri, tak mampu menyembunyikan duka mendalam saat mengenang keponakannya tersebut. Sejak kedua orang tua AA berpulang, Syamsudin-lah yang menjadi garda terdepan dalam merawat dan mendidik AA dari kecil hingga beranjak dewasa.
“Saya sampaikan lagi bahwa almarhumah ini adalah anak yatim piatu. Bapak dan ibunya sudah meninggal dunia. Kebetulan saya yang merawat dia dari kecil, dari sebelum sekolah sampai besar. Saya adalah pengganti orang tuanya,” ungkap Syamsudin dengan nada bicara yang bergetar saat ditemui di kawasan Jalan Sholeh Iskandar, Minggu (24/5/2026).
Di mata keluarga, AA dikenal sebagai sosok yang sangat mandiri. Alih-alih menyerah pada keadaan, ia justru membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang. AA berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) dengan keringatnya sendiri. Ia bekerja keras siang malam untuk membiayai kuliahnya hingga meraih gelar sarjana.
Kedermawanan yang Membekas di Hati Sesama
Tak hanya gigih dalam mengejar pendidikan, AA juga dikenal sebagai pribadi yang memiliki kepedulian sosial tinggi. Rekan-rekan kerjanya mengenal almarhumah sebagai sosok yang dermawan dan ringan tangan. Karakter positif inilah yang membuat kepergiannya meninggalkan lubang besar bagi orang-orang di sekitarnya.
“Almarhumah itu pekerja keras. Saya mendidik dia dari kecil sampai SMA, setelah itu dia bekerja sambil kuliah. Sampai lulus S1 itu hasil kerja sendiri. Di lingkungan kerjanya, dia dikenal sangat dermawan, apalagi terhadap keluarga,” tambah Syamsudin mengenang dedikasi AA.
Keluarga Menuntut Keadilan Maksimal
Meski pihak kepolisian telah bergerak cepat dan menetapkan tersangka dalam waktu kurang dari 24 jam, luka di hati keluarga tetap menganga. Bagi Syamsudin, tindakan pelaku yang sangat keji terhadap keponakannya tidak bisa ditoleransi. Ia berharap sistem peradilan memberikan hukuman yang setimpal dengan hilangnya nyawa AA.
“Harapan dan keinginan saya, pelaku dihukum setimpal dengan perbuatannya. Dia telah menghilangkan nyawa seseorang, maka dia juga harus merasakan hal yang sama. Kalau bisa hukuman mati, atau paling tidak penjara seumur hidup,” tegasnya.
Kasus kriminalitas Bogor ini kini tengah dalam penanganan intensif pihak berwajib. Keluarga memberikan apresiasi tinggi atas respons cepat kepolisian yang berhasil mengamankan pelaku dalam waktu singkat, namun mereka tetap mengawal kasus ini hingga tuntas demi keadilan bagi AA.