Bayang-bayang Kecerdasan Buatan: Mengapa 76% Warga Indonesia Cemas Kehilangan Pekerjaan?
Senin, 01 Jun 2026 20:04 WIB
Kabarmalam.com — Laju perkembangan teknologi yang kian pesat nampaknya menjadi pedang bermata dua bagi masyarakat global. Di balik segala kemudahan yang ditawarkan, bayang-bayang disrupsi mulai menghantui benak para pekerja, terutama di tanah air. Fenomena ini tercermin jelas dalam laporan terbaru dari lembaga riset ternama asal Prancis, Ipsos, yang bertajuk Predictions Report 2026.
Sentimen Kecemasan Global yang Kian Meningkat
Berdasarkan temuan riset tersebut, terdapat tren kenaikan rasa khawatir di kalangan masyarakat dunia terhadap keberadaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Secara global, sebanyak 67% responden menyatakan kecemasan bahwa kehadiran AI akan menggerus banyak lapangan pekerjaan di masa depan. Angka ini menunjukkan eskalasi yang cukup signifikan dibandingkan tahun 2025 yang berada di level 64%.
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah posisi Indonesia dalam peta kegelisahan digital ini. Masyarakat Indonesia berada di barisan terdepan sebagai penduduk yang paling merasa terancam pekerjaannya oleh kehadiran mesin pintar tersebut.
Metodologi Riset Berskala Luar Biasa
Survei komprehensif ini dilakukan pada periode 24 Oktober hingga 7 November 2025, dengan melibatkan total 23.642 responden dewasa dari 30 negara berbeda. Skala riset ini mencakup berbagai rentang usia guna mendapatkan gambaran yang akurat dari berbagai lapisan generasi pekerja, mulai dari usia produktif hingga profesional senior.
Ipsos mengambil sampel sekitar 1.000 responden di masing-masing negara besar seperti Indonesia, Australia, Brasil, hingga Amerika Serikat. Khusus di India, sampel diperluas hingga 2.200 individu untuk mendapatkan akurasi yang lebih tajam. Pendekatan ini dilakukan demi memahami bagaimana setiap bangsa merespons revolusi digital yang tengah berlangsung saat ini.
Daftar Negara yang Paling Khawatir Pekerjaannya Digantikan AI
Data menunjukkan bahwa ketakutan akan hilangnya mata pencaharian akibat otomatisasi sangat mendominasi di wilayah Asia Tenggara dan beberapa negara berkembang lainnya. Berikut adalah daftar negara dengan persentase kecemasan tertinggi menurut pantauan Kabarmalam.com:
- Indonesia – 76%
- Singapura – 76%
- Kolombia – 73%
- Turki – 73%
- Prancis – 73%
- Malaysia – 72%
- Afrika Selatan – 72%
- Australia – 72%
- Peru – 70%
- Britania Raya – 69%
Indonesia bersanding ketat dengan Singapura di posisi puncak. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun adaptasi dunia kerja terhadap teknologi terus berjalan, tantangan sosial mengenai masa depan profesi manusia tetap menjadi isu krusial yang perlu segera diantisipasi.
Fenomena ini bukan sekadar ketakutan tanpa alasan, melainkan sebuah sinyal bagi pemerintah dan sektor swasta untuk mulai fokus pada program peningkatan keterampilan (upskilling). Tujuannya jelas, agar tenaga kerja manusia tetap memiliki nilai tawar yang tinggi di tengah gempuran otomatisasi yang tak terelakkan.