Garda Pangan Nasional: Strategi BULOG Gandeng Intelektual Kampus Wujudkan Swasembada Berkelanjutan
Minggu, 24 Mei 2026 12:04 WIB
Kabarmalam.com — Upaya mewujudkan kedaulatan pangan bukan sekadar urusan birokrasi di atas kertas, melainkan sebuah gerakan kolektif yang melibatkan berbagai elemen bangsa. Menyadari hal tersebut, Perum BULOG kini mulai membidik sektor akademisi sebagai mitra strategis dalam memperkuat fondasi swasembada pangan nasional yang berkelanjutan.
Langkah nyata ini diwujudkan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk ‘Peran Kampus dalam Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan untuk Cadangan Pangan Pemerintah’. Bertempat di Kompleks Pergudangan Utama BULOG Kota Cimahi, Jawa Barat, puluhan perwakilan mahasiswa dari berbagai universitas di Bandung diajak untuk terjun langsung melihat dapur ketahanan pangan Indonesia.
Kegiatan ini bukan sekadar diskusi formal. Para mahasiswa diberikan akses untuk melihat lebih dekat bagaimana cadangan pangan pemerintah dikelola. Mereka mengamati proses manajemen stok, memastikan kualitas beras tetap terjaga, hingga memahami betapa krusialnya peran infrastruktur logistik dalam menjaga stabilitas harga di masyarakat.
Sinergi Akademisi dan Inovasi Pangan
Direktur Utama Perum BULOG, Letnan Jenderal TNI (Purn) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa kampus adalah pusat lahirnya gagasan dan inovasi. Menurutnya, keberlanjutan pangan nasional yang mulai diperkuat sejak 2024 dan diproyeksikan semakin mantap pada 2026 memerlukan suntikan riset serta pemikiran segar dari mahasiswa.
“Penguatan pangan tidak hanya soal memproduksi sebanyak-banyaknya, tetapi juga bagaimana negara mampu menyerap hasil keringat petani, menjaga cadangan tetap aman, dan memastikan akses pangan yang terjangkau bagi rakyat. Di sinilah BULOG berdiri sebagai instrumen negara,” ungkap Ahmad dalam keterangannya.
Rekor Stok dan Posisi Indonesia di Mata Dunia
Dalam kesempatan tersebut, terungkap fakta membanggakan mengenai posisi pangan Indonesia. Merujuk data dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Indonesia kini menduduki peringkat kedua dunia dalam hal kenaikan produksi padi, bersaing ketat dengan Brasil dan Myanmar. Prestasi ini menjadi modal kuat untuk menatap masa depan ketahanan pangan yang lebih mandiri.
Ahmad Rizal memaparkan bahwa saat ini BULOG mengelola stok beras mencapai 5,36 juta ton—sebuah angka tertinggi sepanjang sejarah. Dengan total kapasitas penyimpanan mencapai 6,2 juta ton, BULOG siap mengantisipasi lonjakan produksi padi nasional yang terus meningkat.
- Stok saat ini: 5,36 juta ton (Rekor tertinggi).
- Target pengadaan: 4 juta ton beras.
- Realisasi saat ini: 2,8 juta ton telah terserap dari petani lokal.
Memperkuat Infrastruktur Pascapanen
Tak berhenti pada pengelolaan stok, BULOG juga tengah gencar melakukan modernisasi. Pada tahun ini, rencananya akan dilakukan penambahan infrastruktur pascapanen di 100 titik strategis di seluruh penjuru negeri. Langkah ini diambil untuk memastikan kualitas hasil panen petani tidak merosot saat masuk ke gudang penyimpanan.
Melalui literasi pangan yang dibangun bersama mahasiswa, BULOG berharap muncul ekosistem perubahan yang konstruktif. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga menjadi agen yang mampu mengomunikasikan isu pangan secara lebih luas dan inovatif.
Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah, petani, akademisi, dan generasi muda, cita-cita Indonesia untuk berdikari secara pangan diharapkan bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang terjaga dari hulu hingga ke hilir.