Bamsoet Dukung Aksi Berburu Babi Hutan Guna Lindungi Lahan Pertanian dan Ketahanan Pangan
Sabtu, 23 Mei 2026 21:04 WIB
Kabarmalam.com — Ancaman nyata tengah menghantui para petani di berbagai pelosok daerah. Serangan hama babi hutan yang kian masif tak hanya merusak lahan secara fisik, tetapi juga merenggut harapan para petani saat menyongsong musim panen. Menanggapi fenomena yang meresahkan ini, Anggota DPR RI sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Pemilik Izin Khusus Senjata Api Beladiri Indonesia (PERIKSHA), Bambang Soesatyo, menegaskan dukungannya terhadap kegiatan berburu sebagai langkah strategis untuk mengendalikan populasi satwa liar tersebut.
Sosok yang akrab disapa Bamsoet ini terjun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi nyata di kawasan Malimping, Lebak, Banten, pada Jumat (22/5). Bersama Jalu Hunter Club dan Irjen Pol Nunung Syaifuddin selaku Ketua Umum Pengurus PERBAKIN Banten, ia menyaksikan betapa seriusnya dampak ledakan populasi babi hutan terhadap sektor pertanian lokal yang menjadi tulang punggung ekonomi warga.
Jeritan Petani di Balik Kerusakan Lahan
Menurut Bamsoet, kegiatan berburu babi hutan bukanlah sekadar penyaluran hobi, melainkan respons nyata atas keluhan para petani. Selama ini, gangguan satwa liar terhadap lahan pertanian menjadi persoalan menahun yang sulit diatasi, terutama di wilayah yang bersinggungan langsung dengan kawasan hutan atau area yang mengalami perubahan fungsi lahan.
“Kita tidak boleh menutup mata. Bayangkan perjuangan petani yang telah berbulan-bulan mengeluarkan modal untuk bibit, pupuk, hingga tenaga kerja, lalu semuanya sirna hanya dalam beberapa malam karena serangan babi hutan. Ketika hasil panen merosot, yang terdampak bukan hanya kantong petani, melainkan juga stabilitas rantai pasok pangan masyarakat secara luas,” tegas Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (23/5/2026).
Faktor Ekologis dan Strategi Pengendalian
Babi hutan dikenal sebagai satwa dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa dan tingkat reproduksi yang sangat tinggi. Bamsoet menjelaskan bahwa konflik antara manusia dan satwa liar ini dipicu oleh kompleksitas masalah lingkungan, mulai dari menyempitnya habitat alami hingga ketersediaan pakan yang melimpah di area perkebunan warga. Tanaman pangan seperti padi, jagung, singkong, hingga produk hortikultura menjadi sasaran utama yang kerap luluh lantak dalam waktu singkat.
Namun, Bamsoet mengingatkan agar pengendalian ini dilakukan dengan cara-cara yang terukur. “Kegiatan berburu untuk menekan populasi babi hutan harus dilaksanakan secara berkala dan profesional. Semua harus tetap mengacu pada ketentuan konservasi alam dan prosedur keamanan yang ketat, sehingga manfaat ekonominya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” tambahnya.
Visi Jangka Panjang Ketahanan Pangan
Lebih lanjut, Ketua MPR RI ini mendorong agar aksi di lapangan ini dibarengi dengan kebijakan jangka panjang yang lebih komprehensif. Ia mengusulkan adanya pemetaan wilayah rawan konflik satwa, penguatan sistem pelaporan warga berbasis teknologi, hingga edukasi mendalam mengenai tata kelola habitat yang berkelanjutan.
Dengan pendekatan yang holistik, pengendalian populasi satwa tidak lagi menjadi tindakan reaktif sesaat, melainkan bagian dari manajemen lingkungan yang cerdas. “Tujuan akhirnya adalah memberikan rasa aman bagi warga dan memastikan petani dapat menikmati hasil keringat mereka dengan optimal. Jika produktivitas terjaga, maka ketahanan pangan daerah dan nasional akan semakin kokoh,” tutup Bamsoet.