Tiba-tiba ‘Cringe’ Ingat Masa Lalu Saat Mau Tidur? Ini Penjelasan Ilmiah di Balik Fenomena Tersebut
Kamis, 21 Mei 2026 05:34 WIB
Kabarmalam.com — Pernahkah Anda sedang merebahkan diri di tempat tidur, siap untuk menjemput mimpi, namun tiba-tiba memori tentang kejadian memalukan sepuluh tahun lalu mendadak muncul tanpa diundang? Rasa geli, malu, hingga keinginan untuk bersembunyi di balik selimut—atau yang populer disebut sebagai sensasi ‘cringe’—seringkali datang di saat yang tidak terduga. Fenomena ini ternyata bukan sekadar perasaan emosional biasa, melainkan sebuah proses kompleks yang terjadi di dalam otak manusia.
Meskipun terasa mengganggu, para ahli memastikan bahwa pengalaman ini adalah hal yang wajar. Dalam dunia medis dan psikologi, kondisi ini memiliki penjelasan ilmiah yang cukup mendalam. Mengutip laporan dari Forbes, para pakar menggunakan istilah perseverative thinking untuk mendefinisikan pola pikir repetitif yang sulit dikendalikan, di mana pikiran seseorang terus berputar pada hal-hal yang memicu stres atau ketidaknyamanan.
Mekanisme di Balik Pikiran yang Berulang
Berdasarkan ulasan ilmiah tahun 2025 yang dipublikasikan dalam jurnal Dialogues in Clinical Neuroscience, para peneliti saraf mengungkapkan bahwa fenomena ini berakar dari ketidakharmonisan interaksi antara sistem psikologis yang mengatur regulasi diri. Secara alami, pikiran manusia memang dirancang untuk sering berkelana jauh dari realitas saat ini atau mind-wandering.
Bahkan saat kita sedang melakukan aktivitas rutin seperti mandi, berjalan kaki, atau sekadar melamun di meja kerja, otak kita secara aktif mengunjungi kembali masa lalu, mensimulasikan masa depan, hingga memutar ulang percakapan lama. Kemampuan ini sebenarnya sangat fungsional bagi kesehatan mental manusia karena membantu kita dalam merencanakan langkah ke depan, memecahkan masalah pelik, hingga membentuk identitas diri yang solid.
Mengapa Memori Memalukan Begitu Lengket?
Masalah mulai timbul ketika otak mulai mengategorikan pikiran-pikiran intrusif tersebut sebagai ancaman yang belum tuntas. Salah satu pemicu utamanya adalah apa yang disebut peneliti sebagai discrepancy monitoring. Ini adalah kecenderungan alami otak untuk membandingkan kenyataan yang telah terjadi dengan ekspektasi tentang bagaimana seharusnya peristiwa tersebut berlangsung.
“Kenapa dulu aku bicara seperti itu?” atau “Seharusnya aku tidak melakukan hal memalukan itu,” adalah contoh evaluasi diri yang sering muncul. Karena kesalahan sosial tersebut dianggap sebagai ‘tugas yang belum selesai’ oleh sistem saraf kita, otak akan terus memanggil memori tersebut ke permukaan kesadaran. Tujuannya sebenarnya mulia: mencoba memproses atau memperbaiki kesalahan tersebut secara retrospektif, meskipun kejadiannya sudah lama berlalu.
Dampak bagi Psikologis dan Cara Pandang Diri
Ironisnya, alih-alih memberikan solusi atau rasa lega, pengulangan mental yang terus-menerus ini justru memperkuat jejak memori negatif tersebut. Para peneliti memperingatkan bahwa jika pola perseverative thinking ini dibiarkan tanpa kendali, hal tersebut dapat mengubah cara seseorang memandang dunia dan dirinya sendiri. Memori buruk yang sering dipanggil akan menjadi lebih mudah diakses oleh otak manusia di masa mendatang.
Akibatnya, seseorang mungkin akan merasa bahwa ancaman sosial atau risiko penolakan jauh lebih besar daripada kenyataan yang sebenarnya. Memahami bahwa rasa ‘cringe’ ini hanyalah sisa-sisa mekanisme pertahanan otak dapat membantu kita untuk lebih berdamai dengan masa lalu dan tidak terjebak dalam lingkaran penyesalan yang tidak produktif.