Potret Kelelahan Massal di Seoul: Saat Tidur Menjadi Barang Mewah yang Dilombakan
Selasa, 05 Mei 2026 05:34 WIB
Kabarmalam.com — Di jantung kota Seoul yang seolah tak pernah memadamkan lampunya, ada sebuah pemandangan kontras yang menyayat hati sekaligus menarik perhatian di tepian Sungai Han. Bukan hiruk-pikuk festival musik atau deru langkah para pelari pagi, melainkan ratusan anak muda yang berkumpul dalam keheningan total. Misi mereka hanya satu: memejamkan mata dan menjemput mimpi di tengah hari bolong.
Pemerintah Kota Seoul baru-baru ini kembali menggelar ‘Kontes Tidur Siang Singkat’, sebuah perhelatan tahunan yang kini memasuki tahun ketiga. Acara ini bukan sekadar gimik administratif, melainkan manifestasi dari keputusasaan warga menghadapi budaya kerja yang sangat kompetitif dan melelahkan. Bagi warga Korea Selatan, terutama generasi muda, waktu istirahat telah bermutasi menjadi barang mewah yang sulit digapai.
Realitas Pahit: Bertahan Hidup dengan Tidur 3 Jam
Salah satu partisipan yang menarik perhatian adalah Park Jun-seok, seorang pemuda berusia 20 tahun. Di balik jubah megah ala raja Dinasti Joseon yang ia kenakan, tersimpan rahasia kelam tentang pola hidupnya sehari-hari. Ia mengaku harus membagi waktu antara persiapan ujian yang sangat berat dan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidup.
“Antara tumpukan buku ujian dan jam kerja paruh waktu, saya rata-rata hanya bisa tidur sekitar 3 hingga 4 jam setiap malam. Sisanya, saya hanya bisa mencuri waktu untuk tidur siang di meja kerja,” ungkap Jun-seok sebagaimana dikutip dari laporan lapangan. Mengenakan kostum raja baginya adalah bentuk sarkasme sekaligus harapan agar ia bisa tidur setenang dan semulia seorang penguasa, meski hanya di taman kota.
Perjuangan Melawan Insomnia dan Tekanan Mental
Masalah kesehatan mental dan gangguan tidur bukan lagi isu pinggiran di Korea Selatan. Yoo Mi-yeon (24), peserta lainnya, datang dengan kostum koala yang menggemaskan. Namun, alasan di baliknya cukup memprihatinkan. Ia menderita insomnia akut yang membuatnya sulit memejamkan mata secara berkualitas meski tubuhnya sudah sangat letih.
“Koala dikenal sebagai hewan yang sangat mahir tidur nyenyak. Saya mengenakan kostum ini dengan harapan bisa meminjam sedikit keajaiban mereka untuk bisa benar-benar terlelap,” tutur Mi-yeon. Baginya, kontes ini adalah ruang aman di mana tidur tidak dianggap sebagai bentuk kemalasan, melainkan sebuah kebutuhan dasar yang patut dirayakan.
Negara dengan Jam Tidur Terendah
Fenomena ‘gila kerja’ ini didukung oleh data statistik yang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan laporan dari Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD), Korea Selatan secara konsisten menempati peringkat atas untuk kategori jam kerja lembur tertinggi, namun berada di posisi terbawah untuk durasi tidur di antara negara-negara maju.
Kehidupan di megapolitan seperti Seoul yang beroperasi 24 jam penuh menciptakan tekanan akademik dan tuntutan profesional yang tak ada habisnya. Hal ini memicu kondisi kurang tidur kronis yang berdampak luas pada produktivitas jangka panjang dan stabilitas emosional warganya.
Kemenangan bagi Mereka yang Kelelahan
Menariknya, pemenang utama kompetisi unik ini adalah seorang pria lansia berusia 80 tahun, disusul oleh Hwang Du-seong (37) di posisi kedua. Du-seong, yang sehari-harinya berjibaku dengan shift malam dan tuntutan mobilitas tinggi sebagai pengemudi, mengaku mengikuti ajang ini murni karena tubuhnya sudah mencapai titik batas.
“Saya benar-benar kelelahan. Bekerja shift malam sembari menjalani rutinitas harian lainnya membuat energi saya terkuras habis. Ketika mendengar ada kontes tidur ini, saya bertekad untuk datang demi mengisi ulang energi sepenuhnya. Saya sangat bahagia bisa meraih juara kedua hanya dengan beristirahat,” tutup Du-seong dengan senyum lega.
Melalui ajang ini, Kabarmalam.com melihat adanya pesan tersirat bagi masyarakat modern: di dunia yang menuntut kita untuk terus berlari, berani berhenti sejenak dan tidur adalah sebuah bentuk perlawanan sekaligus upaya penyelamatan diri.