Ikuti Kami
kabarmalam.com

Menguak Modus Child Grooming Oknum Kepsek di Tangsel: Luka Psikologis yang Membekas Seumur Hidup

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 18 Mei 2026 08:35 WIB
Menguak Modus Child Grooming Oknum Kepsek di Tangsel: Luka Psikologis yang Membekas Seumur Hidup

Kabarmalam.com — Jagat maya baru-baru ini diguncang oleh kabar miring yang melibatkan seorang oknum pimpinan lembaga pendidikan di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Seorang Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta diduga kuat melakukan praktik child grooming terhadap salah satu siswinya. Kasus ini mencuat setelah sejumlah akun anonim di media sosial membeberkan pola pendekatan predatoris yang menyasar anak-anak dengan latar belakang keluarga tertentu.

Siasat Licin Menyasar Anak ‘Fatherless’

Berdasarkan informasi yang dihimpun, oknum kepala sekolah tersebut diduga sengaja membidik siswi yang masuk dalam kategori fatherless atau mereka yang kurang mendapatkan figur serta perhatian dari sosok ayah. Dengan memanfaatkan celah emosional tersebut, pelaku menjalankan aksinya secara berulang untuk membangun ketergantungan psikologis pada korban.

Baca Juga  Lindungi Publik dari Bahaya Gula, Sejumlah Brand Kopi Ternama Mulai Terapkan Label Nutri Level

Menanggapi isu yang kian memanas, pihak yayasan sekolah segera mengambil langkah tegas. Melalui pernyataan resmi di akun media sosial @letrispamulangofficial, pihak manajemen mengonfirmasi bahwa yang bersangkutan telah dibebastugaskan dari jabatannya. Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen terhadap transparansi dan untuk memastikan proses investigasi internal berjalan tanpa intervensi.

Memahami Bahaya ‘Child Grooming’

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan child grooming? Secara harafiah, ini adalah proses manipulasi psikologis yang sistematis. Pelaku—yang biasanya merupakan orang dewasa berwibawa—berusaha memenangkan hati dan kepercayaan anak dengan tujuan akhir eksploitasi, baik secara emosional maupun seksual.

Metode yang digunakan sering kali terlihat ‘manis’ namun beracun. Pelaku biasanya memulai dengan memberikan perhatian berlebih, pujian, hingga hadiah-hadiah kecil yang membuat korban merasa spesial. Tak jarang, pelaku memposisikan diri sebagai satu-satunya orang yang paling mengerti perasaan sang anak.

Baca Juga  Mitos vs Fakta: Benarkah Harus Minum 8 Gelas Air Sehari? Simak Penjelasan Medisnya

Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa dalam proses ini, pelaku sering kali berperan sebagai tempat curhat yang paling nyaman. “Anak akhirnya merasa sangat bergantung, dan di sinilah batas-batas relasi yang sehat mulai dikaburkan oleh pelaku,” ungkapnya dalam sebuah diskusi mengenai fenomena kesehatan mental anak.

Dampak Fatal bagi Masa Depan Korban

Dampak dari praktik keji ini tidak bisa dianggap remeh. Menurut dr. Lahargo, luka yang ditimbulkan sering kali bersifat jangka panjang dan sangat destruktif bagi perkembangan jiwa sang anak. Korban cenderung mengalami trauma mendalam, gangguan kecemasan akut, hingga perasaan malu dan bersalah yang menghantui.

Beberapa dampak signifikan lainnya meliputi:

  • Kehilangan rasa aman dan krisis kepercayaan terhadap orang lain.
  • Risiko depresi berat yang bisa berujung pada tindakan menyakiti diri sendiri.
  • Kebingungan identitas karena sosok yang tadinya dianggap pelindung berubah menjadi sosok yang menakutkan.
  • Gangguan dalam membangun relasi interpersonal saat dewasa nanti.
Baca Juga  Penyesalan Mendalam An Thy: Rahasia Gelap di Balik Diagnosis Kanker Darah dan Kebiasaan Minum Boba Berlebih

Kasus ini menjadi pengingat keras bagi para orang tua dan pendidik untuk lebih peka terhadap pola interaksi antara orang dewasa dan anak-anak di lingkungan sekolah. Perlindungan anak harus menjadi prioritas utama agar ruang pendidikan tetap menjadi tempat yang aman untuk bertumbuh, bukan justru menjadi ladang perburuan bagi para predator.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid