Ikuti Kami
kabarmalam.com

Lindungi Publik dari Bahaya Gula, Sejumlah Brand Kopi Ternama Mulai Terapkan Label Nutri Level

Wahid | kabarmalam.com
Jumat, 17 Apr 2026 14:34 WIB
Lindungi Publik dari Bahaya Gula, Sejumlah Brand Kopi Ternama Mulai Terapkan Label Nutri Level

Kabarmalam.com — Fenomena menjamurnya gerai minuman kekinian di sudut-sudut kota memang memanjakan lidah, namun di balik kesegarannya, ada ancaman kesehatan yang mengintai. Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan kini resmi menginisiasi langkah preventif dengan memperkenalkan sistem Nutri Level. Kebijakan berupa pelabelan kode warna gizi ini bertujuan untuk mengendalikan tingkat konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang kian tak terkendali di tengah masyarakat.

Lampu Kuning untuk Minuman Manis

Tahap awal implementasi kebijakan ini secara spesifik menyasar sektor minuman siap saji. Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan bahwa langkah ini lebih menitikberatkan pada aspek edukasi daripada sekadar pembatasan yang kaku. Data menunjukkan tren yang cukup mencemaskan: hampir 30 persen penduduk Indonesia mengonsumsi gula melampaui ambang batas harian.

Bahkan, dr. Nadia memaparkan fakta mengejutkan bahwa dalam satu porsi minuman manis populer, kandungan gulanya bisa mencapai 50 persen dari total kebutuhan harian seseorang. “Jika pola konsumsi berlebihan ini terus dibiarkan tanpa adanya kesadaran, faktor risiko penyakit tidak menular seperti penyakit diabetes akan meningkat tajam di masa depan,” tegasnya dalam sebuah pertemuan di Jakarta Selatan baru-baru ini.

Baca Juga  Harga Kondom di China Melambung: Warga Pilih Borong Stok Ketimbang Tanggung Biaya Besarkan Anak

Mengenal Mekanisme Nutri Level: Hijau hingga Merah

Sistem Nutri Level dirancang dengan logika yang sangat sederhana agar mudah dicerna oleh konsumen secara instan. Alih-alih harus membaca tabel informasi nilai gizi yang seringkali berhuruf kecil dan rumit, masyarakat cukup melihat kode warna pada kemasan produk:

  • Warna Hijau: Menandakan produk memiliki kandungan gula yang rendah dan relatif aman dikonsumsi.
  • Warna Kuning/Oranye: Menunjukkan kategori menengah yang memerlukan pengawasan dalam konsumsinya.
  • Warna Merah: Menjadi alarm waspada karena produk tersebut mengandung kadar gula yang sangat tinggi.

Melalui visualisasi ini, diharapkan para penikmat kopi susu maupun boba dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan sehat sebelum melakukan transaksi di kasir.

Baca Juga  Sering Begadang dan Ngopi? Awas, Penyakit 'Tua' Ini Kini Incar Anak Muda Sampai Rusak Lambung!

Mengapa Brand Besar Jadi Pionir?

Sejumlah nama besar di industri minuman siap saji seperti Starbucks, Kopi Kenangan, Chatime, hingga Fore Coffee, menjadi target awal dari kebijakan pelabelan ini. Pemilihan gerai-gerai populer tersebut bukan tanpa alasan. Perusahaan besar dinilai memiliki kapasitas infrastruktur yang mumpuni, mulai dari jangkauan pasar yang luas hingga kemampuan finansial untuk melakukan uji laboratorium mandiri dan perubahan desain label produk.

Meski demikian, dr. Nadia menekankan bahwa saat ini Nutri Level masih bersifat sukarela dan dalam masa sosialisasi. Pemerintah berhati-hati agar tidak terjadi kejutan rasa (taste shock) bagi konsumen jika industri langsung memangkas kadar gula secara drastis dalam waktu singkat. Ada masa transisi sekitar dua tahun yang dipersiapkan agar lidah masyarakat dan formula produk industri dapat beradaptasi secara perlahan.

Baca Juga  Menguak Rahasia Cuka Apel Turunkan Kolesterol ala Menkes BGS, Pakar Beri Catatan Penting

Dukungan untuk Sektor UMKM

Tak hanya menyasar raksasa industri, pemerintah juga tetap membuka pintu bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk ikut mengadopsi standar kesehatan ini. Tantangan biaya pengujian laboratorium yang selama ini menjadi kendala bagi pengusaha kecil kini tengah dicari solusinya agar seluruh lapisan industri dapat berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat.

Dengan pendekatan yang humanis dan bertahap, kehadiran Nutri Level diharapkan mampu menjadi alat navigasi bagi masyarakat dalam memilih asupan yang lebih sehat, sekaligus menekan angka penderita penyakit kronis yang beban pembiayaannya kian membebani anggaran negara.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid