Bukan Sekadar Tren, Daniel Mananta Bagikan Esensi Lari dan Ambisi Maraton di Usia 70 Tahun
Selasa, 19 Mei 2026 16:34 WIB
Kabarmalam.com — Fenomena olahraga lari saat ini sedang berada di puncaknya di Indonesia. Namun, di balik keramaian tersebut, muncul kekhawatiran akan maraknya budaya Fear of Missing Out (FOMO) serta ambisi semu demi konten di media sosial. Menanggapi hal ini, presenter kawakan Daniel Mananta memberikan sudut pandang yang lebih mendalam mengenai makna sebenarnya dari sebuah konsistensi dalam berolahraga.
Daniel, yang kini telah menginjak usia 45 tahun, membuktikan bahwa gaya hidup sehat bukanlah sebuah proyek jangka pendek. Sejak memulai langkah pertamanya di jalur maraton pada tahun 2016, Daniel tidak pernah berpaling. Kini, setelah satu dekade konsisten menempa diri, ia tengah mempersiapkan fisiknya untuk melakoni maraton ke-14 yang akan diselenggarakan di Cape Town, Afrika Selatan.
Menaklukkan Diri di Setiap Langkah
Bagi Daniel, tantangan terbesar dari olahraga lari bukanlah jarak tempuh yang mencapai 42 kilometer, melainkan peperangan melawan pikiran sendiri. Ia mengungkapkan bahwa setiap pagi adalah medan pertempuran mental untuk memilih antara kenyamanan tempat tidur atau sepatu lari.
“Setiap hari saya harus mengalahkan diri saya sendiri berkali-kali. Pertama pas bangun tidur; mau lanjut tidur apa lari? Itu berat banget. Kedua, pas lagi lari dan kecapean; otak saya bilang saya harus lari terus, selesaikan ini,” ungkap Daniel dengan penuh semangat.
Visi Menembus Usia Senja
Jika banyak orang merencanakan masa pensiun yang tenang tanpa banyak aktivitas fisik, Daniel justru memiliki peta jalan yang berbeda. Ia menargetkan untuk tetap aktif di lintasan lari bahkan saat usianya menyentuh kepala tujuh. Baginya, maraton adalah investasi jangka panjang untuk kualitas hidup di masa depan.
“Saya pengen nanti ketika umur 70, atau ketika umur 80, masih bisa lari. Target saya ketika saya umur 70, saya masih ikutan maraton,” tambahnya. Rencana jangka panjang ini menunjukkan betapa Daniel memandang kesehatan sebagai sebuah maraton kehidupan, bukan sekadar lari jarak pendek.
Lari Sebagai Ruang Spiritual
Uniknya, Daniel memilih cara yang berbeda saat berlari jarak jauh. Di saat banyak orang memerlukan musik bertempo cepat untuk memacu adrenalin, ia justru memilih keheningan. Baginya, lari telah berevolusi menjadi bentuk meditasi dan ruang spiritual untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta.
“Lari itu jadi meditasi buat saya. Itu adalah waktu ketika saya mengobrol sama Tuhan. Saya tidak mendengarkan musik, kadang-kadang bahkan sampai dengerin khotbah, atau bahkan tidak dengerin apa-apa,” tuturnya mengenai kedalaman makna lari baginya.
Pesan untuk Pelari Pemula: Hindari Jebakan Strava
Mengakhiri perbincangan, Daniel memberikan wejangan bagi mereka yang baru memulai hobi lari. Ia menekankan pentingnya meluruskan niat agar tidak terjebak dalam validasi digital seperti di aplikasi Strava atau sekadar ingin terlihat keren di mata publik karena tuntutan sosial.
“Jangan lari karena FOMO, tapi lari karena mau sehat. Jangan mau lari karena pengen terlihat cepat atau pengen ngebuktiin sesuatu di Strava. Olahraga karena Anda pengen sehat,” pungkasnya tegas.