Ikuti Kami
kabarmalam.com

Pesan Mendalam Prabowo di Tuban: Polri Harus Menjadi Polisi Rakyat, Bukan Sekadar Profesional

Husnul | kabarmalam.com
Sabtu, 16 Mei 2026 16:34 WIB
Pesan Mendalam Prabowo di Tuban: Polri Harus Menjadi Polisi Rakyat, Bukan Sekadar Profesional

Kabarmalam.com — Suasana hangat menyelimuti lahan pertanian di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, saat Presiden Prabowo Subianto hadir untuk memimpin langsung Panen Raya Jagung sekaligus melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan 10 gudang cadangan pangan. Di balik agenda seremonial tersebut, terselip pesan filosofis yang mendalam bagi Korps Bhayangkara: jadilah Polisi Rakyat.

Nostalgia Perjuangan: Tiwul dan Ketulusan Desa

Dalam sambutannya yang penuh emosional, Presiden Prabowo sempat memutar memori ke masa mudanya saat masih aktif di medan penugasan. Ia mengenang bagaimana hubungan harmonis antara aparat keamanan dan masyarakat akar rumput menjadi kunci eksistensi negara. Prabowo menceritakan betapa tulusnya warga desa yang rela berbagi meski dalam kondisi serba terbatas.

Baca Juga  Strategi Baru Pentagon: Amerika Serikat Mulai Pangkas Kekuatan Militer di Benua Biru

“Dulu waktu saya masih muda, meskipun jiwa saya sekarang tetap merasa muda, saya ingat betul bagaimana rakyat desa keluar memberi makan kepada kami. Padahal hidup mereka susah. Punya pisang, pisang dikasih. Punya ubi, ubi diberikan. Bahkan tiwul pun mereka suguhkan dengan ikhlas,” kenang Prabowo di hadapan para hadirin pada Sabtu (16/5/2026).

Cerita ini bukan sekadar nostalgia, melainkan penegasan bahwa kekuatan TNI dan Polri berakar dari dukungan rakyat jelata. Hal inilah yang mendasari keyakinannya bahwa aparat harus selalu berdiri tegak membela kepentingan masyarakat kecil.

Fokus Strategis pada Ketahanan Pangan

Lebih lanjut, Prabowo menekankan bahwa stabilitas nasional sangat bergantung pada kedaulatan perut rakyat. Ia memandang petani dan nelayan sebagai pilar utama negara yang harus dijaga martabat dan kesejahteraannya. Program ketahanan pangan, menurutnya, adalah harga mati bagi keberlangsungan bangsa.

Baca Juga  Skandal Internal Terungkap, Menteri PU Berhentikan Pejabat Akibat Proyek Sekolah Rakyat 'Setengah Mangkrak'

“Petani dan nelayan adalah produsen pangan bagi seluruh negeri. Siapa pun yang ingin melihat bangsa ini langgeng, maka fokus utamanya haruslah pada urusan pangan,” tegasnya. Langkah nyata ini dibuktikan dengan peresmian fasilitas gudang pangan yang diharapkan mampu menjaga distribusi dan ketersediaan komoditas strategis di daerah.

Kritik Positif dan Harapan untuk Bhayangkara

Presiden tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga apresiasi yang tinggi kepada jajaran kabinet dan pimpinan institusi keamanan. Ia secara khusus memuji dedikasi Menteri Pangan Zulkifli Hasan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto atas kolaborasi lintas sektoral dalam menyukseskan program swasembada pangan nasional.

Namun, Prabowo memberikan catatan penting mengenai identitas institusi. Menurutnya, profesionalisme dalam menjalankan tugas adalah sebuah kewajiban, namun hal itu jangan sampai menciptakan jarak dengan masyarakat.

Baca Juga  Menilik Sejarah dan Makna Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62: Transformasi Menuju Pelayanan yang Manusiawi

“TNI kita adalah tentara rakyat, dan polisi kita adalah polisi rakyat. Menjadi profesional itu penting dalam hal kemampuan teknis, tetapi kita tidak boleh semata-mata hanya menjadi polisi profesional yang kaku. Kalian para Bhayangkara harus sangat dekat dan menyatu dengan rakyat,” tuturnya menutup pidato.

Pesan ini menjadi alarm pengingat bagi seluruh anggota kepolisian untuk terus mengedepankan sisi humanis dalam setiap langkah pengabdian di tengah masyarakat.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul