Strategi Afrika Melawan Kelangkaan: Menavigasi Krisis Pupuk Akibat Blokade Selat Hormuz
Jumat, 08 Mei 2026 16:34 WIB
Kabarmalam.com — Dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini menjalar hingga ke pelosok Afrika, memicu kekhawatiran akan krisis pangan yang meluas. Lahan pertanian yang terbengkalai, antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar, hingga pembatalan jadwal penerbangan menjadi pemandangan pahit yang harus dihadapi benua ini. Sudah dua bulan lamanya, lalu lintas kapal dagang di Selat Hormuz nyaris lumpuh total, memutus rantai pasok minyak dan pupuk yang menjadi urat nadi ekonomi global.
Ancaman Nyata di Selat Strategis
Uni Afrika kini berada dalam posisi waspada tinggi. Willy Nyamite, Duta Besar Burundi untuk Uni Afrika sekaligus Ketua Komite Duta Besar, mengungkapkan bahwa situasi di Selat Hormuz dipantau dengan sangat saksama. Hal ini dikarenakan blokade tersebut menghambat distribusi barang-barang strategis yang sangat krusial bagi stabilitas ekonomi negara-negara di wilayah tersebut.
Harapan untuk melihat aktivitas pelayaran kembali normal seperti sebelum pecahnya ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran tampaknya masih jauh dari kenyataan. Sekalipun ketegangan mereda, pemulihan jalur distribusi dan normalisasi pasar diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan. Kondisi ini memaksa pemerintah dan lembaga di Afrika masuk ke dalam “mode krisis” demi mencegah skenario terburuk: kelaparan massal dan kebangkrutan negara akibat lonjakan inflasi.
Belajar dari Krisis Masa Lalu
Anja Berretta, Kepala Program Ekonomi Afrika di Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS), memberikan pandangan yang menarik. Meski situasi saat ini sangat serius, ia mengingatkan bahwa Afrika pernah menghadapi tantangan serupa pada tahun 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina dimulai. Sebagai produsen pupuk utama dunia, absennya pasokan dari Rusia dan Belarus sempat menimbulkan kekhawatiran akan kelaparan hebat, namun hal itu berhasil diredam melalui intervensi finansial yang cerdas dari Bank Pembangunan Afrika (AfDB).
“Afrika telah menunjukkan fleksibilitasnya. Saat ini, ruang gerak politik untuk mengambil langkah darurat masih terbuka lebar,” ujar Berretta. Upaya penyelamatan kini difokuskan pada sektor bahan bakar fosil dan pertanian yang menjadi fondasi ketahanan pangan.
Langkah Darurat: Dari Subsidi hingga Campuran Etanol
Berbagai negara Afrika mulai menerapkan kebijakan unik untuk bertahan hidup. Di Etiopia, solar kini diprioritaskan hanya untuk transportasi umum, sementara warga sipil harus rela mengantre. Di Sudan Selatan, pemadaman listrik bergilir terpaksa dilakukan karena kelangkaan minyak untuk pembangkit listrik. Sementara itu, Gambia mengucurkan subsidi bahan bakar senilai lebih dari Rp114 miliar, dan Zimbabwe mengambil langkah kreatif dengan mencampur bahan bakar fosil dengan etanol.
Namun, masalah yang paling mengkhawatirkan justru terletak pada sektor pertanian. Sebelum blokade terjadi, hampir separuh dari pasokan sulfur dunia—bahan utama pupuk fosfat—melewati Selat Hormuz. Data dari Grain SA menunjukkan lonjakan harga amonia hingga 75 persen dan urea hingga 60 persen dibandingkan tahun lalu. Tanpa pupuk yang terjangkau, produksi komoditas pangan seperti jagung, beras, dan gandum akan merosot tajam, memicu krisis ekonomi yang lebih dalam.
Solusi Kolektif dan Kemandirian Jangka Panjang
Salah satu solusi jangka pendek yang dianggap paling realistis adalah pengadaan bersama (pooling) oleh negara-negara Afrika, meniru strategi Uni Eropa saat mengamankan vaksin COVID-19. Dengan menggabungkan daya beli, negara-negara ini memiliki posisi tawar yang lebih kuat di pasar internasional. Komunitas regional seperti ECOWAS atau Komunitas Afrika Timur (EAC) diharapkan bisa segera merealisasikan kesepakatan ini mengingat musim tanam yang sudah dimulai.
Untuk jangka panjang, ketergantungan pada guncangan eksternal harus diputus. Negara-negara seperti Maroko, Mesir, dan Nigeria melalui Grup Dangote mulai memperluas kapasitas produksi pupuk lokal. Namun, kunci utamanya terletak pada implementasi Zona Perdagangan Bebas Afrika (AfCFTA) yang bertujuan untuk menghapus hambatan perdagangan antarnegara di benua tersebut.
Selain itu, langkah revolusioner menuju mobilitas listrik juga mulai digaungkan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan memperkuat rantai pasok regional dan mendorong investasi di sektor energi baru terbarukan, Afrika berharap bisa membangun benteng pertahanan yang lebih tangguh dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik di masa depan.