Perkuat Sinergi, Kapolda Riau Gandeng Forum Pemred Lawan Gurita Narkoba dan Ancaman Karhutla
Jumat, 08 Mei 2026 11:06 WIB
Kabarmalam.com — Menghadapi tantangan kompleks di Bumi Lancang Kuning, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Dalam sebuah pertemuan hangat bersama pimpinan media yang tergabung dalam Forum Pemred, jenderal bintang dua ini membedah berbagai isu krusial, mulai dari degradasi lingkungan hingga ancaman laten peredaran narkoba yang kian mengkhawatirkan.
Pertemuan strategis yang berlangsung di Mapolda Riau pada Kamis (7/5/2026) ini bukan sekadar ajang silaturahmi biasa. Kehadiran para pemimpin redaksi media nasional dan lokal, bersama perwakilan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dan Pewarta Foto Indonesia (PFI), menandai langkah baru dalam memperkuat sinergi antara kepolisian dan media sebagai mitra strategis pembangunan daerah.
Paradoks Kekayaan Alam Riau
Dalam paparannya, Irjen Herry Heryawan menyoroti dinamika yang terjadi di Provinsi Riau. Ia mengungkapkan adanya persentase masalah yang cukup dominan, di mana isu lingkungan menempati urutan teratas, disusul oleh permasalahan narkotika. Kapolda secara terbuka membedah apa yang ia sebut sebagai ‘paradoks kekayaan alam’.
“Riau menyumbang sekitar 30 persen dari total produksi minyak nasional. Namun, di balik kekayaan energi yang melimpah ini, muncul berbagai tantangan sosial dan keamanan, termasuk masalah Bahan Bakar Minyak (BBM) dan sengketa tanah ulayat yang kerap memicu konflik agraria,” ujar Irjen Herry di hadapan para pemred.
Menghalau Ancaman Karhutla di Tengah Super El Nino
Memasuki tahun 2026, tantangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi jauh lebih berat. Fenomena Super El Nino yang menjadi siklus 30 tahunan kini membayangi wilayah Riau. Kapolda menekankan bahwa penanganan bencana ini tidak bisa hanya bertumpu pada satu instansi saja.
“Asap bukan hanya masalah lingkungan, tapi masalah keamanan nasional. Dampaknya nyata, mulai dari gangguan kesehatan seperti ISPA hingga keresahan sosial yang luas. Oleh karena itu, kami mengedepankan langkah preventif melalui edukasi masif kepada masyarakat,” imbuhnya. Kapolda juga telah menginstruksikan jajaran Kapolres untuk memastikan kesiapan sarana prasarana, termasuk pembuatan kanal dan embung di titik rawan.
Semangat Green Policing dan Bersih-Bersih Internal
Sebagai solusi inovatif, Polda Riau meluncurkan gerakan Green Policing. Program ini merupakan inisiatif pencegahan berbasis komunitas yang melibatkan Bhabinkamtibmas sebagai motor penggerak penghijauan. Melalui pendekatan door-to-door system, petugas mengajak warga menanam pohon dan berpartisipasi dalam perlombaan Desa Bebas Api.
Di sisi lain, ketegasan juga ditunjukkan dalam pemberantasan narkoba. Irjen Herry Heryawan memberikan peringatan keras kepada jajarannya. Ia tidak akan mentoleransi personel yang terbukti bermain-main dengan barang haram tersebut.
“Perintah saya sangat jelas: personel yang terlibat narkoba langsung PTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat). Kita harus memastikan rumah kita bersih di dalam sebelum kita dipercaya publik untuk membersihkan di luar,” tegasnya. Selain tindakan represif, Polda Riau juga mengaktifkan kembali ‘Kampung Tangguh Bebas Narkoba’ di wilayah pesisir seperti Pulau Rupat dan kawasan perkebunan sawit.
Arsitektur Keamanan Menghadapi Gejolak Global
Menutup pertemuan tersebut, Kapolda menyinggung dampak ekonomi global terhadap stabilitas lokal. Dengan fluktuasi nilai tukar dolar yang mempengaruhi harga bahan pokok dan BBM, kepolisian dituntut menjadi arsitektur keamanan yang responsif.
Polda Riau kini memanfaatkan teknologi untuk memonitor stok di SPBU secara real-time guna mencegah aksi penimbunan yang merugikan rakyat. “Riau adalah basis energi nasional. Kita harus mampu memprediksi dan memitigasi gejolak sebelum terjadi demi kenyamanan masyarakat,” pungkas lulusan Akpol 1996 tersebut.