Kisah Pilu Keluarga Arinjani: Sempat Berpencar Cari Keberadaan Sang Auditor Sebelum Kabar Duka Tiba
Rabu, 29 Apr 2026 14:34 WIB
Kabarmalam.com — Isak tangis menyelimuti suasana di TPU Mangun Jaya, Kabupaten Bekasi, saat jenazah Arinjani Novita Sari (25) perlahan dihantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Arinjani merupakan salah satu korban jiwa dalam tragedi kecelakaan kereta yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam lalu.
Kepergian Arinjani menyisakan luka mendalam dan cerita pilu tentang perjuangan keluarga yang sempat terombang-ambing dalam ketidakpastian. Sang ibu, Yani (54), menceritakan bagaimana komunikasi terakhir dengan putrinya terputus begitu saja. Sebelum kejadian, Arinjani masih sempat berbalas pesan singkat dengan tantenya. Namun, sebuah tawaran sederhana tentang makan malam menjadi pesan terakhir yang tak pernah terbalas.
Detik-Detik Hilang Kontak yang Menegangkan
“Adik saya sempat kirim pesan sekitar jam 8.52 malam, tanya ada pempek mau digorengin tidak? Tapi tidak ada jawaban. Kami telepon berkali-kali juga tidak diangkat. Saat itu pikiran kami masih positif, mungkin dia sudah tidur karena kelelahan,” kenang Yani dengan mata berkaca-kaca saat ditemui tim Kabarmalam.com setelah prosesi pemakaman, Rabu (29/4).
Ketentraman keluarga seketika berubah menjadi kepanikan luar biasa ketika kakak Arinjani memberikan kabar buruk. Informasi mengenai adanya tabrakan hebat di Stasiun Bekasi Timur mulai beredar luas. Perasaan waswas pun memuncak karena hingga larut malam, Arinjani tak kunjung sampai di rumah.
“Begitu dengar kabar kecelakaan, saya langsung gemetar. Kami coba hubungi terus, nomornya aktif dan berdering, tapi tidak ada yang mengangkat. Di situlah kami merasa ada sesuatu yang salah,” tambah Yani.
Pencarian Tak Kenal Lelah ke Berbagai Rumah Sakit
Tanpa membuang waktu, keluarga besar segera bergerak menuju lokasi kejadian dan posko evakuasi. Namun, nama Arinjani tidak kunjung muncul dalam daftar korban luka yang dirawat di berbagai rumah sakit di sekitar Bekasi. Dalam keputusasaan, keluarga memutuskan untuk berpencar menyisir setiap unit gawat darurat.
“Kami sekeluarga memencar ke sana-kemari. Semua rumah sakit di Bekasi kami datangi sampai pagi, tapi hasilnya nihil. Rasanya campur aduk antara berharap dia selamat atau takut akan kenyataan terburuk,” tuturnya.
Titik terang baru muncul setelah pihak pengelola KRL menyatakan bahwa seluruh proses evakuasi telah rampung. Karena identitas Arinjani tidak ditemukan di rumah sakit setempat, petugas mengarahkan keluarga untuk mengecek ke RS Polri Kramat Jati. Setelah melalui proses tes DNA yang melelahkan, barulah pada sore harinya keluarga mendapat kepastian bahwa Arinjani telah tiada.
Sosok Ceria yang Kini Telah Tiada
Di mata keluarga dan rekan-rekannya, Arinjani dikenal sebagai sosok yang sangat ceria. Wanita yang berprofesi sebagai auditor di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat ini, adalah sosok yang selalu menghidupkan suasana di rumah.
“Anaknya itu sangat ramai dan baik sekali. Kalau ada dia, rumah pasti terasa ceria. Kehilangan dia benar-benar membuat rumah terasa sepi,” pungkas Yani mengenang sang putri.
Peristiwa maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek ini tercatat merenggut 16 nyawa dan menyebabkan puluhan lainnya luka-luka. Tragedi ini menjadi pengingat kelam akan pentingnya keselamatan transportasi publik di tanah air.