Ikuti Kami
kabarmalam.com

Ketegangan di Teluk: UEA Kritik Keras Lemahnya Solidaritas Negara Arab Hadapi Agresi Iran

Husnul | kabarmalam.com
Selasa, 28 Apr 2026 13:04 WIB
Ketegangan di Teluk: UEA Kritik Keras Lemahnya Solidaritas Negara Arab Hadapi Agresi Iran

Kabarmalam.com — Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru yang penuh gejolak. Uni Emirat Arab (UEA) secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap negara-negara sekutunya di kawasan Teluk, menuding mereka menunjukkan sikap yang sangat lemah dalam merespons ancaman dan serangan dari Iran.

Kritik pedas ini datang langsung dari Anwar Gargash, penasihat senior kepresidenan UEA. Dalam sebuah konferensi tingkat tinggi yang digelar di Dubai, Gargash mengungkapkan kekecewaannya terhadap dinamika politik dan militer di internal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Menurutnya, meskipun koordinasi logistik antarnegara anggota tetap berjalan, posisi tawar secara kolektif justru berada pada titik nadir.

Kekecewaan Mendalam Abu Dhabi

Gargash tidak ragu menyebut bahwa sikap yang ditunjukkan GCC saat ini adalah yang terlemah dalam sejarah organisasi tersebut. Ia menyoroti bagaimana ancaman nyata yang dirasakan oleh seluruh kawasan justru dihadapi dengan keraguan.

Baca Juga  Trump Tarik Mundur Utusan dari Pakistan: Diplomasi dengan Iran Masih Menemui Jalan Buntu

“Sikap GCC adalah yang paling lemah secara historis, mengingat sifat serangan dan ancaman yang ditimbulkannya bagi semua orang,” tegas Gargash. Ia menambahkan bahwa meskipun dirinya sudah memprediksi respons serupa dari Liga Arab, ia sama sekali tidak menyangka bahwa negara teluk yang tergabung dalam GCC akan bersikap sedemikian pasif.

Latar Belakang Serangan Balasan Teheran

Ketegangan ini memuncak setelah Iran meluncurkan ratusan rudal dan drone yang menyasar berbagai titik strategis di wilayah Teluk. Aksi Teheran tersebut merupakan balasan atas serangan skala besar yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.

Negara-negara seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan UEA yang menampung pangkalan militer AS pun berada dalam posisi terjepit. Namun, UEA menjadi pihak yang paling vokal karena merasa menjadi target utama dalam konflik iran tersebut. Di saat Abu Dhabi menuntut tindakan tegas, negara-negara tetangganya justru memilih untuk bersikap lebih hati-hati dan menghindari konfrontasi langsung.

Baca Juga  Selat Hormuz Kembali Dibuka, Pertamina Siapkan Skenario Matang untuk Dua Kapal Tanker yang Sempat Tertahan

Kegagalan Diplomasi Menahan Diri

Selama bertahun-tahun, negara-negara monarki di Teluk telah mencoba menerapkan kebijakan “menahan diri”. Pendekatan ini dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari mediasi diplomatik, kemitraan di sektor energi, hingga hubungan perdagangan yang erat.

Namun, bagi UEA, masa-masa diplomasi lunak tersebut telah berakhir. Gargash menegaskan bahwa seluruh kebijakan tersebut telah gagal total dalam menjamin keamanan regional. Kegagalan ini menuntut adanya evaluasi besar-besaran terhadap strategi hubungan luar negeri negara-negara Teluk di masa depan.

  • UEA menuntut sikap militer yang lebih solid di kawasan.
  • Kegagalan kebijakan mediasi memicu perlunya penilaian ulang strategis.
  • Perbedaan persepsi ancaman antaranggota GCC semakin terlihat jelas.

Situasi ini kini menempatkan stabilitas di kawasan Teluk dalam ketidakpastian, di mana perpecahan internal di antara negara-negara kaya minyak tersebut dapat menjadi celah bagi peningkatan pengaruh Iran yang lebih luas.

Baca Juga  Kebuntuan Nuklir: Iran Tawarkan Jeda 5 Tahun, Amerika Serikat Ngotot Minta 20 Tahun
Tentang Penulis
Husnul
Husnul