Gencatan Senjata Terkoyak, Israel Kembali Lancarkan Serangan Udara di Lebanon Selatan
Senin, 27 Apr 2026 01:35 WIB
Kabarmalam.com — Harapan akan kedamaian di tanah Lebanon kembali dibayangi awan kelabu. Meski kesepakatan gencatan senjata secara teknis masih berlangsung, militer Israel dilaporkan kembali melancarkan serangan udara yang menyasar sejumlah titik strategis di wilayah Lebanon Selatan, memicu kekhawatiran akan runtuhnya stabilitas yang baru saja diupayakan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, eskalasi ini terjadi tak lama setelah pihak Israel mengeluarkan perintah evakuasi mendadak bagi warga di tujuh lokasi berbeda. Serangan yang dilancarkan oleh jet tempur Israel ini dilaporkan menghantam desa Kfar Tibnit, salah satu wilayah yang masuk dalam zona peringatan. Kantor Berita Nasional Lebanon mengonfirmasi adanya laporan mengenai jatuhnya korban jiwa akibat aksi militer tersebut, yang menandai fase kritis dalam hubungan panas antara Israel dan kelompok Hizbullah.
Dalih Keamanan dan Respons Tegas Israel
Pihak militer Israel (IDF) bersikeras bahwa tindakan mereka bukan tanpa alasan. Melalui juru bicara berbahasa Arab, Kolonel Avichay Adraee, Israel mengeklaim bahwa operasi ini merupakan langkah antisipatif terhadap pelanggaran komitmen yang dilakukan oleh pihak lawan. Berdasarkan ketentuan perjanjian damai yang mulai berlaku sejak 17 April tersebut, Israel merasa memiliki hak untuk bertindak terhadap ancaman yang dianggap terencana maupun yang sedang berlangsung.
“Mengingat adanya pelanggaran perjanjian oleh organisasi teroris Hizbullah, IDF terpaksa mengambil tindakan tegas untuk meredam ancaman tersebut,” tegas Adraee melalui pernyataan resminya. Lokasi yang menjadi sasaran serangan mencakup tujuh desa yang berada di sebelah utara Sungai Litani, wilayah yang kini menjadi perhatian serius bagi stabilitas keamanan di Lebanon.
Ketegangan di Garis Perbatasan
Situasi di lapangan menunjukkan betapa rapuhnya perdamaian di kawasan ini. Pasukan Israel diketahui masih beroperasi di dalam zona yang mereka sebut sebagai “garis kuning” di dekat perbatasan. Di wilayah tersebut, penduduk sipil Lebanon sebelumnya telah diperingatkan untuk tidak kembali demi alasan keamanan. Namun, serangan udara terbaru ini menunjukkan bahwa radius konflik telah melebar melampaui sekadar penjagaan garis depan.
Di sisi lain, pihak Hizbullah membantah tuduhan yang dilontarkan oleh PM Benjamin Netanyahu dan militer Israel. Mereka justru menuding Tel Aviv sebagai pihak yang berulang kali merusak substansi dari kesepakatan damai tersebut dengan terus melancarkan provokasi militer. Hingga saat ini, ketegangan masih menyelimuti wilayah selatan, di mana suara dentuman ledakan seolah membisikkan bahwa perang belum benar-benar berakhir meski dokumen di atas meja telah ditandatangani.