Ikuti Kami
kabarmalam.com

Misi Andra Soni dan Suku Baduy: Menjaga Nafas Alam di Jantung Ujung Kulon

Husnul | kabarmalam.com
Minggu, 26 Apr 2026 01:34 WIB
Misi Andra Soni dan Suku Baduy: Menjaga Nafas Alam di Jantung Ujung Kulon

Kabarmalam.com — Langkah kaki ribuan warga masyarakat adat Baduy kembali menggema di pusat Kota Serang, membawa pesan mendalam tentang harmoni antara manusia dan semesta. Dalam momen khidmat Seba Baduy yang berlangsung di Gedung Negara Provinsi Banten, Gubernur Banten Andra Soni memberikan komitmen penuh untuk mendukung langkah masyarakat adat dalam menjaga kelestarian bumi, khususnya di kawasan ujung barat Pulau Jawa.

Gubernur Andra Soni secara langsung menyambut kedatangan rombongan Suku Baduy yang datang dari pedalaman Kanekes, Kabupaten Lebak. Tradisi tahunan yang digelar pada Sabtu (25/4/2026) ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan pertemuan spiritual antara pemimpin daerah yang dijuluki “Bapak Gede” dengan rakyatnya yang setia menjaga akar budaya. Sambil membawa hasil bumi terbaik sebagai simbol rasa syukur, warga Baduy menitipkan amanah besar terkait keberlangsungan ekosistem di wilayah Banten.

Baca Juga  Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Akan Kembali ke Status Quo: Perintah Langsung Pemimpin Revolusi

Komitmen Pelestarian Alam di Sanghyang Sirah

Salah satu poin krusial dalam pertemuan tersebut adalah rencana pelaksanaan ritual adat sakral bertajuk “Ngaraksa Gunung Ngarawat Alam”. Andra Soni menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Banten akan memfasilitasi kebutuhan masyarakat Baduy yang hendak menjalankan ritual tersebut di kawasan Sanghyang Sirah dan Gunung Honje, yang terletak di wilayah Ujung Kulon, Pandeglang.

“Kami di Pemerintah Provinsi Banten akan menindaklanjuti aspirasi saudara-saudara kita dari Baduy. Melalui Dinas Lingkungan Hidup, koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lebak dan Pandeglang akan segera dilakukan agar ritual Ngaraksa Gunung Ngarawat Alam ini berjalan lancar. Ini adalah tanggung jawab kita bersama,” ujar Andra Soni dengan nada optimis.

Filosofi ‘Gunung Ulah Dilebur, Lebak Ulah Dirusak’

Dalam balutan suasana malam yang penuh kekeluargaan, Andra menyimak dengan saksama amanat yang disampaikan oleh para tokoh adat melalui Jaro Pamarentah dan Jaro Warga. Pesan inti yang disampaikan adalah filosofi hidup turun-temurun: ‘Gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak’—sebuah pengingat keras agar gunung tidak dihancurkan dan lembah tidak dirusak demi kepentingan sesaat.

Baca Juga  Terkuak! Komplotan Begal Petugas Damkar di Gambir Gunakan Hasil Kejahatan untuk Pesta Narkoba

“Pesan mereka sangat jelas dan menyentuh esensi kehidupan. Masalah lingkungan di Kanekes dan sekitarnya adalah perhatian utama kami. Komunikasi yang selama ini terjalin melalui Jaro Pamarentah akan terus kita perkuat. Kami sangat berterima kasih atas kesetiaan masyarakat Kanekes dalam menjaga pelestarian alam dan terus memberikan masukan konstruktif bagi pemerintah,” tambah sang Gubernur.

Menjaga Keseimbangan Semesta

Sementara itu, Jaro Oom selaku Kepala Desa Kanekes sekaligus Jaro Pamarentah, menjelaskan bahwa Seba Baduy merupakan puncak dari rangkaian prosesi adat pascapanen dan Ngalaksa. Kehadiran mereka menghadap Gubernur adalah untuk memastikan bahwa pemimpin daerah tetap teguh menjaga keselarasan alam di luar wilayah ulayat mereka.

“Kami datang untuk menegaskan komitmen ngeraksa aturan adat. Ritual sakral yang akan kami jalankan di Sanghyang Sirah dan Gunung Honje adalah upaya spiritual untuk menyelamatkan gunung, sungai, dan hutan. Kami bergerak untuk menjaga keseimbangan alam agar tetap lestari bagi anak cucu nanti,” tegas Jaro Oom.

Baca Juga  Komitmen Membangun Desa, Ibas Raih Penghargaan KWP Awards 2026: Bukti Nyata Kepedulian pada Ekonomi Rakyat

Dengan adanya dukungan penuh dari Pemprov Banten, diharapkan sinergi antara kebijakan modern dan kearifan lokal ini mampu menjadi benteng pertahanan terakhir dalam menghadapi degradasi lingkungan, sekaligus membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus mengorbankan kelestarian alam yang sakral.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul