Seba Baduy 2026: Pesan Tajam untuk Pelestarian Alam dan Pemimpin Anti-Korupsi
Sabtu, 25 Apr 2026 01:35 WIB
Kabarmalam.com — Langkah kaki ribuan warga masyarakat adat Baduy kembali mewarnai jalanan menuju pusat pemerintahan Kabupaten Lebak dalam tradisi tahunan Seba Baduy. Bukan sekadar seremoni serah terima hasil bumi, tahun ini mereka membawa misi suci berupa pesan moral yang tajam bagi para pemangku kebijakan di Provinsi Banten.
Bertempat di Pendopo Bupati Lebak, warga Baduy bertemu langsung dengan Bupati Hasbi Asyidiki Jayabaya beserta jajaran undangan lainnya. Di tengah suasana khidmat tersebut, warga Baduy menitipkan mandat penting untuk menjaga kesucian alam yang selama ini menjadi sumber denyut nadi kehidupan mereka.
Mandat Menjaga Alam: Air dan Tanah Adalah Titipan
Jaro Tangungan 12, Saidi Putra, dalam penyampaiannya menekankan betapa krusialnya komitmen pemerintah dalam isu pelestarian alam. Ia mengingatkan bahwa wilayah-wilayah yang dianggap sakral atau kawasan hutan larangan tidak boleh terjamah oleh eksploitasi yang merusak, baik di daratan maupun perairan.
“Kami menitipkan harapan agar apa yang ada di muka bumi ini dipikirkan dengan bijak. Di pelosok mana pun yang masuk dalam kawasan larangan, baik di darat maupun air, mohon dijaga,” ujar Saidi Putra pada Jumat (24/4/2026).
Selain masalah hutan, isu pencemaran lingkungan juga menjadi perhatian serius. Saidi menyoroti maraknya limbah industri dan limbah rumah tangga yang mulai mengotori aliran sungai. Baginya, sungai bersih adalah syarat mutlak bagi kesejahteraan masyarakat karena air merupakan elemen paling vital bagi mahluk hidup.
Sentilan Lewat Pantun: Pemimpin Harus Bersih dari Korupsi
Ada hal yang menarik dalam prosesi Seba kali ini. Di balik kesahajaan mereka, masyarakat Baduy juga menaruh perhatian pada integritas birokrasi. Saidi Putra melontarkan sebuah pantun yang berisi pesan eksplisit agar para pemimpin memiliki kecerdasan yang dibarengi dengan kejujuran.
“Ke Malingping lewat Cikeper, ke Rangkas beli roti. Jadi pemimpin harus pintar, harus bisa berantas korupsi,” ucap Saidi, yang langsung disambut hangat oleh hadirin. Pesan ini seolah menjadi pengingat bahwa pemberantasan korupsi adalah bagian tak terpisahkan dari amanah kepemimpinan.
Respon Pemerintah: Lebih dari Sekadar Ritual
Menanggapi aspirasi tersebut, Bupati Lebak Hasbi Jayabaya menegaskan bahwa Seba Baduy merupakan momen refleksi bagi pemerintah daerah. Ia memandang kearifan lokal yang dibawa oleh masyarakat Baduy sebagai filosofi mendalam yang harus diimplementasikan dalam setiap kebijakan pembangunan.
“Melalui tradisi Seba Baduy, kita belajar bahwa ini bukan sekadar seremoni. Abah Saidi mengingatkan kita lewat pesan ‘Gunung jangan dilebur, Lebak jangan dirusak’. Artinya, kita semua memikul tanggung jawab yang sama untuk menjaga lingkungan hidup tetap lestari,” ungkap Hasbi.
Setelah dari Pendopo Kabupaten Lebak, rombongan warga Baduy direncanakan akan melanjutkan perjalanan menuju Pendopo Gubernur Banten sebagai puncak dari rangkaian tradisi Seba tahun ini. Mereka berharap suara dari pedalaman ini benar-benar menjadi kompas bagi arah pembangunan di masa depan.