Strategi Humanis Gus Ipul: Rangkul Eks Napiter di Palu Melalui Program Pemberdayaan dan Rehabilitasi Sosial
Senin, 20 Apr 2026 20:36 WIB
Kabarmalam.com — Upaya merajut kembali tali persaudaraan kebangsaan terus diperkuat oleh Pemerintah melalui pendekatan yang lebih personal dan empatik. Baru-baru ini, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, melakukan kunjungan kerja ke Sulawesi Tengah untuk berdialog langsung dengan para mantan narapidana terorisme (eks napiter). Pertemuan yang berlangsung hangat di Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu ini menjadi babak baru dalam program deradikalisasi berbasis pemberdayaan masyarakat.
Langkah nyata ini merupakan implementasi dari nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya telah diteken antara Gus Ipul dan Rektor UIN Datokarama Palu, Lukman S. Thahir. Sebanyak 67 eks napiter hadir sebagai perwakilan dari 105 orang yang dibina oleh dua lembaga sosial ternama, yakni LKS Lingkar Persaudaraan Nusantara Poso dan LKS Pelita Ummat Palu. Kehadiran Gus Ipul di tengah-tengah mereka bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk pengakuan negara terhadap proses transisi mereka kembali ke pangkuan NKRI.
Mendengar untuk Memberdayakan
Dalam dialog tersebut, Gus Ipul menegaskan bahwa kehadirannya bertujuan untuk mendengarkan langsung aspirasi dari para peserta yang telah lama berproses melalui berbagai institusi. Ia memaparkan bahwa Kementerian Sosial memiliki tiga pilar utama dalam menangani kelompok rentan: perlindungan dan jaminan sosial, rehabilitasi sosial, serta pemberdayaan sosial.
“Perlindungan sosial berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar. Namun yang tak kalah penting adalah rehabilitasi untuk memulihkan fungsi sosial secara utuh, baik dari sisi psikis maupun fisik,” jelas Gus Ipul. Ia menambahkan bahwa ujung dari proses ini adalah pemberdayaan sosial, di mana setiap individu didorong untuk mandiri secara ekonomi dan sosial.
Asesmen Personal: Kunci Keberhasilan Program
Gus Ipul menekankan bahwa bantuan yang diberikan tidak akan bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan unik masing-masing individu. Untuk itu, proses asesmen yang mendalam akan dilakukan guna menggali potensi dan kendala yang dihadapi para eks napiter.
- Identifikasi keterampilan yang ingin ditekuni.
- Penyediaan modal usaha bagi yang ingin berwirausaha.
- Penguatan kapasitas ekonomi melalui pendampingan berkelanjutan.
“Kita akan bekerja sama dengan yayasan pendamping untuk melihat apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Apakah itu pelatihan keterampilan tertentu atau penguatan di bidang modal usaha,” imbuhnya.
Apresiasi dan Harapan dari Akar Rumput
Sesi diskusi berjalan interaktif dan penuh keterbukaan. Akbar, salah satu perwakilan eks napiter, menyampaikan rasa hormatnya atas kehadiran pimpinan tertinggi Kementerian Sosial tersebut. Menurutnya, ini adalah kali pertama sebuah kementerian datang langsung dengan jajaran pimpinan lengkap untuk bertatap muka dan mendengar keluh kesah mereka di lapangan.
Akbar mengungkapkan bahwa tantangan terbesar bagi seorang eks napiter adalah stigma dan proses integrasi kembali ke masyarakat. “Kami berharap silaturahmi ini menjadi awal dari kolaborasi panjang. Kami butuh dukungan agar bisa kembali berfungsi secara normal di tengah masyarakat,” ungkapnya penuh harap.
Acara ini juga turut dihadiri oleh Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos Supomo, Staf Khusus Mensos Bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin Ishaq Zubaedi Raqib, serta sejumlah pejabat daerah lainnya, menandakan keseriusan pemerintah dalam mengawal isu kesejahteraan sosial di wilayah konflik masa lalu.