Jusuf Kalla Ungkap Fakta di Balik Karier Politik Jokowi: Di Balik Tirai Pencalonan Sang Presiden
Minggu, 19 Apr 2026 19:04 WIB
Kabarmalam.com — Panggung politik tanah air kembali memanas menyusul pernyataan lugas dari Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK). Sosok yang akrab disapa Daeng Ucu ini secara terbuka mengeklaim bahwa perjalanan karier Joko Widodo (Jokowi) hingga menduduki kursi kepresidenan tidak lepas dari peran besarnya di masa lalu. Pernyataan yang memicu diskusi hangat di ruang publik ini kemudian diperjelas oleh juru bicaranya, Husain Abdullah.
Husain mengungkapkan bahwa pernyataan JK tersebut bukanlah tanpa alasan. Selama ini, JK cenderung menahan diri meski sering kali mendapat tudingan miring dari loyalis Jokowi. Mantan Ketua Umum Golkar tersebut kerap dinarasikan sebagai sosok yang kurang bersyukur meski telah mendampingi Jokowi sebagai Wapres pada periode 2014-2019. Husain menegaskan bahwa ungkapan JK adalah upaya untuk meluruskan sejarah agar publik memahami realita yang terjadi di balik layar tokoh politik nasional tersebut.
Langkah Awal dari Solo ke Ibu Kota
Menilik kembali rekam jejak sejarah, Husain mengingatkan publik pada momentum Pilgub DKI Jakarta 2012. Kala itu, nama Jokowi masih terkungkung di lingkup lokal sebagai Walikota Solo. Adalah Jusuf Kalla yang menjadi aktor intelektual di balik layar yang meyakinkan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, untuk memboyong Jokowi ke Jakarta.
“Pak JK yang mengantarkan langsung nama Jokowi ke Ibu Mega agar dicalonkan sebagai Gubernur DKI. Beliau sadar betul bahwa tanpa ‘panggung’ di Ibu Kota, nasib politik Jokowi mungkin akan sangat berbeda hari ini,” ujar Husain. Menurutnya, keberhasilan Jokowi di Jakarta merupakan pintu gerbang utama yang membuka peluangnya dalam kontestasi Pemilihan Presiden di kemudian hari.
Syarat Mutlak Megawati di Pilpres 2014
Tak hanya di tingkat daerah, peran strategis Jusuf Kalla juga teruji saat ambang batas Pilpres 2014. Husain membeberkan sebuah fakta yang jarang diketahui publik: Megawati Soekarnoputri awalnya ragu untuk meresmikan pencalonan Jokowi karena menganggapnya masih kurang pengalaman dalam kancah politik nasional.
Keputusan PDI Perjuangan untuk mengusung Jokowi akhirnya hanya diberikan dengan satu syarat mutlak, yakni harus berpasangan dengan Jusuf Kalla. “Ibu Mega tidak bersedia menandatangani berkas pencalonan Jokowi jika wakilnya bukan Pak JK. Pengalaman Pak JK dianggap mampu menutupi kekurangan Jokowi saat itu untuk bersaing ketat dengan Prabowo Subianto,” tambah Husain.
Menepis Tudingan Negatif
Pernyataan JK ini juga muncul sebagai bentuk pembelaan diri terhadap tuduhan liar yang dialamatkan kepadanya. Belakangan, muncul isu tak berdasar yang menyebut JK terlibat dalam pendanaan isu ijazah palsu sang presiden. Menanggapi hal itu, JK merasa perlu mengingatkan kembali siapa sebenarnya yang berperan dalam membesarkan nama Jokowi di kancah nasional.
Sebagai penutup, Husain menegaskan bahwa selama masa pemerintahan, JK sering kali pasang badan dalam berbagai momen krusial untuk melindungi kredibilitas pemerintahan Jokowi. Dengan fakta-fakta sejarah ini, narasi mengenai siapa yang sebenarnya berhutang budi dalam dinamika politik ini menjadi lebih terbuka untuk dinilai oleh masyarakat luas.