Menghadapi Gejolak Global: Strategi Airlangga Hartarto Perkuat Ketahanan Energi Nasional di AZEC Plus Summit
Rabu, 15 Apr 2026 18:35 WIB
Kabarmalam.com — Bayang-bayang krisis energi akibat eskalasi geopolitik global menuntut langkah nyata dan kolaborasi lintas negara yang lebih solid. Menanggapi situasi krusial tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, hadir mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam perhelatan strategis AZEC Plus Online Summit Meeting yang digelar pada Rabu (15/4).
Forum internasional yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Jepang, Takaichi Sanae, ini menjadi panggung penting bagi Indonesia untuk menyuarakan urgensi ketahanan energi kawasan. Pertemuan ini tidak hanya melibatkan negara mitra inti, tetapi juga memperluas jangkauan ke negara-negara seperti Bangladesh, Timor-Leste, India, Korea Selatan, dan Sri Lanka, serta melibatkan institusi finansial global seperti Asian Development Bank (ADB) dan International Energy Agency (IEA).
Respons Konkret Lewat AZEC 2.0 dan Pendanaan Masif
Sebagai jawaban atas ketidakpastian pasokan energi, summit ini resmi meluncurkan assistance package plan. Inisiatif ini dirancang sebagai langkah mitigasi darurat untuk mengamankan pasokan minyak mentah dan produk energi dalam jangka pendek. Lebih dari itu, forum ini menandai transformasi besar menuju AZEC 2.0 yang didukung oleh paket pembiayaan fantastis senilai 1,5 triliun yen untuk memperkuat struktur energi kawasan secara jangka panjang.
Dalam intervensinya, Menko Airlangga Hartarto menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif Jepang yang tanggap terhadap dinamika global. Ia menekankan bahwa filosofi kerja sama dalam platform ini harus tetap berpijak pada prinsip One Goal, Various Pathways.
“Kerja sama dalam AZEC harus terus berlandaskan prinsip tersebut guna menangkap keunggulan ekonomi unik yang dimiliki setiap negara anggota,” tegas Airlangga dalam keterangan resminya.
Langkah Berani Indonesia: B50 dan Roadmap PLTS Atap
Indonesia tidak hanya bicara soal teori. Di hadapan para pemimpin Asia, Airlangga memaparkan langkah konkret pemerintah dalam memitigasi risiko gangguan energi di jalur strategis seperti Selat Hormuz. Dua pilar utama yang menjadi andalan adalah:
- Program Biodiesel B50: Rencananya akan mulai diimplementasikan secara penuh pada pertengahan tahun 2026 sebagai upaya menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
- Roadmap PLTS Atap 100 GW: Penyelesaian peta jalan pengembangan energi terbarukan berbasis tenaga surya yang ditargetkan rampung tahun ini.
Semangat kolaborasi ini sebetulnya telah diperkuat sejak KTT ke-3 AZEC di Kuala Lumpur pada Oktober 2025 lalu. Saat itu, Indonesia dan Jepang telah mengunci 21 nota kesepahaman (MoU) yang mencakup sektor dekarbonisasi, penguatan rantai pasok, hingga pengembangan teknologi hijau berkelanjutan.
Keberhasilan Proyek Strategis di Lapangan
Juru Bicara Kemenko Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menambahkan bahwa dampak positif dari AZEC sudah mulai dirasakan secara nyata melalui proses debottlenecking pada berbagai proyek strategis nasional. Salah satu pencapaian yang patut diapresiasi adalah kelancaran proyek PLTP Muara Laboh dan PLTSa Legok Nangka.
“Penandatanganan PJBL pada proyek PLTSa Legok Nangka menjadi bukti sahih bahwa implementasi transisi energi di bawah payung AZEC berjalan efektif dalam mendorong dekarbonisasi di Indonesia,” ungkap Haryo.
Pertemuan yang berlangsung secara daring ini juga turut didampingi oleh Plt. Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Multilateral Kemenko Perekonomian, Cahyadi Yudodahono, yang menegaskan komitmen Indonesia untuk terus menjadi pemain kunci dalam menciptakan ekosistem energi yang inklusif dan adaptif di Asia.