Ikuti Kami
kabarmalam.com

Diplomasi Damai vs Retorika Politik: Jawaban Berkelas Paus Leo XIV Atas Serangan Donald Trump

Husnul | kabarmalam.com
Senin, 13 Apr 2026 17:46 WIB
Diplomasi Damai vs Retorika Politik: Jawaban Berkelas Paus Leo XIV Atas Serangan Donald Trump

Kabarmalam.com — Atmosfer diplomatik antara Vatikan dan Washington mendadak menghangat. Paus Leo XIV, pemimpin tertinggi umat Katolik dunia yang dikenal vokal menyuarakan kemanusiaan, akhirnya memberikan tanggapan atas kritik tajam yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Meski diserang secara personal, sang Pontifex memilih untuk tetap tenang dan menjaga jarak dari hiruk-pikuk politik praktis.

Dalam sebuah momen reflektif di atas pesawat kepausan menuju Aljazair pada Senin (13/4/2026), Paus Leo XIV menegaskan bahwa posisinya bukan sebagai lawan politik bagi siapa pun. Kunjungan perdana sang Paus ke benua Afrika ini pun diwarnai dengan pertanyaan wartawan mengenai perselisihan terbuka dengan Trump terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Prinsip di Atas Panggung Politik

“Saya bukan seorang politikus,” ujar Paus Leo XIV dengan nada tenang namun tegas. Sosok yang mencatatkan sejarah sebagai Paus pertama asal Amerika Serikat ini menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki hasrat untuk terjun dalam polemik kata-kata dengan sang Presiden. Bagi beliau, misi yang diemban jauh melampaui kepentingan elektoral atau strategi militer.

Baca Juga  Tragedi Subuh di Batang: Pria Tanpa Identitas Tewas Terhantam KA Blambangan Ekspres

“Saya tidak berniat untuk berdebat dengannya (Trump). Pesan yang saya bawa tetap sama sejak awal: mempromosikan perdamaian dunia,” imbuhnya di hadapan para awak media yang mengikuti perjalanan apostoliknya.

Akar Perselisihan: Nuklir dan Agresi Militer

Ketegangan ini bermula ketika Paus Leo secara terbuka mengkritik kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan Israel yang dinilai provokatif terhadap Iran. Presiden Donald Trump, yang tidak terima dengan campur tangan moral Vatikan, segera meluncurkan serangan verbal. Trump melabeli Paus Leo sebagai sosok yang “sangat buruk untuk kebijakan luar negeri.”

Melalui platform media sosial Truth Social, Trump bahkan menuliskan kritik panjang yang menuding sang Paus bersikap lemah. Trump merasa keberatan jika pemimpin agama mengkritik presiden negaranya sendiri terkait isu kedaulatan dan keamanan nasional.

  • Trump mengecam sikap Paus yang menentang kepemilikan senjata nuklir.
  • Sang Presiden mengklaim bahwa Paus Leo XIV terpilih hanya karena identitasnya sebagai orang Amerika, bukan karena kompetensi spiritual semata.
  • Ada tudingan bahwa Gereja sengaja menempatkan Leo XIV di posisi tersebut untuk mengimbangi manuver politik Trump.
Baca Juga  Gawat! Trump Sebut Kuba Bakal Lumpuh Total Tanpa Pasokan Minyak Venezuela

Konsistensi Sang Pontifex

Pekan lalu, Paus Leo XIV sempat mengeluarkan pernyataan keras yang mengutuk retorika perang terhadap rakyat Iran, menyebutnya sebagai tindakan yang “benar-benar tidak dapat diterima.” Baginya, membiarkan senjata nuklir menjadi bagian dari solusi konflik adalah sebuah kesalahan moral yang besar.

Meski mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Gedung Putih, Paus Leo tetap pada pendiriannya. Sebagaimana pesan Paskah perdananya yang lalu, ia mengajak dunia untuk “memilih damai, bukan perang.” Langkah berani sang Paus ini seolah mempertegas bahwa meski ia berasal dari tanah Amerika, loyalitas tertingginya tetap berada pada kemanusiaan dan perdamaian global, bukan pada kepentingan nasional negara asalnya.

Kini, publik menanti apakah tanggapan dingin namun elegan dari Vatikan ini akan meredakan ketegangan, atau justru memicu babak baru dalam perseteruan antara otoritas moral tertinggi dunia dan pemimpin negara adidaya tersebut.

Baca Juga  Sejarah Baru! Puan Maharani Sahkan UU PPRT Setelah 22 Tahun Menanti dan UU Pelindungan Saksi
Tentang Penulis
Husnul
Husnul