Jejak Perlawanan di Labirin The Casbah: Menapaki Sejarah Emas Kemerdekaan Aljazair
Jumat, 15 Mei 2026 17:34 WIB
Kabarmalam.com — Di jantung kota Aljir, ibu kota Aljazair, berdiri sebuah kawasan legendaris yang bukan sekadar tumpukan batu dan semen tua. Ia adalah The Casbah, sebuah pemukiman kuno yang menyimpan ribuan rahasia tentang keberanian, darah, dan air mata dalam merebut kemerdekaan dari belenggu kolonialisme Prancis.
Menyusuri jalan-jalan di Kasbah layaknya memasuki sebuah mesin waktu. Dibangun pada tahun 944 Masehi, kota tua ini didominasi oleh bangunan-bangunan berwarna putih bersih dengan sentuhan arsitektur Moor-Arab yang kental. Meskipun beberapa sudut terlihat mulai termakan usia, aura keagungan sejarahnya justru semakin terpancar kuat. Di sini, kendaraan bermotor tidak memiliki tempat; satu-satunya cara untuk meresapi setiap jengkalnya adalah dengan berjalan kaki di antara gang-gang sempit yang saling bersilangan.
Benteng Alam Gerilyawan FLN
Keunikan topografi Kasbah yang menyerupai labirin rumit bukanlah tanpa makna. Pada periode perang kemerdekaan (1954-1962), jalanan yang membingungkan ini menjadi keuntungan strategis bagi para pejuang dari Front de Libération Nationale (FLN). Mereka menjadikan kawasan padat ini sebagai markas besar untuk menyusun taktik gerilya kota yang mematikan.
Tentara Prancis pada masa itu sering kali dibuat frustrasi dan kehilangan arah saat mencoba meredam perlawanan di dalam Casbah. Setiap gang buntu dan atap rumah yang terhubung menjadi rute pelarian sekaligus medan serangan bagi rakyat Aljazair. Perjuangan panjang selama 132 tahun—sejak 1830 hingga akhirnya berdaulat pada 5 Juli 1962—terpatri kuat di setiap dinding batu kawasan ini.
Saksi Bisu Era Ottoman hingga Katolik Roma
Tak jauh dari labirin pemukiman, terdapat Benteng Aljir yang berdiri megah di titik tertinggi kota. Dibangun pada tahun 1516, benteng ini merupakan mahakarya militer dari era pemerintahan Ottoman yang masih kokoh berdiri hingga saat ini. Kehadirannya menjadi pengingat akan lapisan sejarah dunia yang pernah singgah di tanah Afrika Utara ini.
Perjalanan menyusuri Aljir belum lengkap tanpa mengunjungi Katedral Notre Dame d’Afrique. Berbeda dengan nuansa Islam Moor di Casbah, katedral yang dibangun antara 1858 hingga 1872 ini menampilkan kemegahan arsitektur Romawi. Letaknya yang menghadap langsung ke Laut Mediterania memberikan kontras visual yang memukau bagi siapa pun yang berkunjung.
Eksplorasi mendalam di The Casbah ini merupakan bagian dari rangkaian acara 25th International Tourism and Travel Fair (SITEV). Melalui ajang ini, Aljazair seolah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka bukan hanya memiliki destinasi wisata yang indah, tetapi juga sebuah identitas bangsa yang tangguh dan tak mudah luntur oleh zaman.