Harapan Baru Anak Jalanan: Pramono Anung Gandakan Kuota Sekolah Rakyat Jakarta Menjadi 2.000 Siswa
Sabtu, 04 Jul 2026 18:34 WIB
Kabarmalam.com — Pendidikan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan jembatan untuk mengangkat derajat kemanusiaan. Inilah prinsip yang ditegaskan oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, saat mencetuskan langkah ambisius untuk memperluas akses belajar bagi anak-anak paling rentan di ibu kota melalui program Sekolah Rakyat.
Dalam sebuah langkah nyata yang sarat dengan empati, Pramono menginstruksikan penambahan kuota signifikan bagi Sekolah Rakyat di Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, ia meminta kapasitas penerimaan siswa baru ditambah sebanyak 1.000 kursi, sehingga total kuota yang tersedia nantinya akan mencapai 2.000 siswa. Namun, Pramono memberikan catatan khusus: kursi-kursi tambahan ini harus diprioritaskan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan oleh kerasnya kehidupan metropolitan.
Prioritas bagi Anak Jalanan dan Keluarga Rentan
Pramono menekankan bahwa target utama dari perluasan ini adalah anak-anak dari lapisan masyarakat terbawah. Ia menaruh perhatian besar pada anak jalanan, pengamen, hingga mereka yang terpaksa putus sekolah karena situasi ekonomi yang sulit atau latar belakang keluarga yang tidak harmonis (broken home).
“Jakarta, saya langsung memutuskan untuk minta tambah 1.000 siswa. Kami akan menyiapkan konsep boarding school atau sekolah berasrama, sementara kurikulum dan proses pembelajarannya akan didukung penuh oleh pemerintah pusat,” ujar Pramono di sela-sela peluncuran buku “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (4/7/2026).
Transformasi Luar Biasa di Balik Dinding Sekolah
Keputusan Pramono untuk memperbesar kuota ini bukanlah tanpa alasan. Ia mengaku sangat tersentuh setelah menyaksikan langsung transformasi para siswa di Sekolah Rakyat yang berlokasi di Jakarta Selatan—sebuah program yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto. Pramono bahkan tidak mampu membendung air matanya saat melihat perubahan drastis pada anak-anak yang sebelumnya mungkin hanya menghabiskan waktu di lampu merah.
“Yang membuat saya terkejut, mereka benar-benar bisa menguasai bahasa Inggris, bahasa Arab, hingga Mandarin. Wajah mereka terlihat berubah, ada harapan baru di sana. Itulah menurut saya simbol nyata dari semangat Marhaenisme,” ungkapnya dengan nada emosional.
Sinergi Pemerintah untuk Pendidikan Inklusif
Untuk mendukung visi ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen menyediakan lahan dan fasilitas asrama yang memadai. Dengan model sekolah berasrama, diharapkan anak-anak tersebut bisa belajar dengan fokus tanpa harus terdistraksi oleh beban ekonomi keluarga atau lingkungan jalanan yang keras.
Langkah ini menjadi bagian dari agenda besar pembangunan pendidikan inklusif di Jakarta. Pramono bermimpi agar setiap anak di Jakarta, tanpa memandang status sosial mereka, memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan meraih masa depan yang lebih cerah melalui pendidikan berkualitas yang disubsidi oleh negara.