Api Berkobar 5 Hari di TPA Jatiwaringin, Krisis Sampah Tangerang Meluas Hingga 15 Hektar
Sabtu, 04 Jul 2026 20:33 WIB
Kabarmalam.com — Langit di kawasan Mauk, Kabupaten Tangerang, masih diselimuti kabut asap pekat hingga hari kelima kebakaran hebat yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Upaya pemadaman skala besar terus digencarkan oleh tim gabungan, namun hembusan angin kencang dan tumpukan sampah yang mencapai puluhan meter menjadi tantangan berat yang harus dihadapi para petugas di lapangan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang melaporkan bahwa hingga Sabtu (4/7/2026), titik api masih bermunculan di beberapa sektor TPA. Kebakaran TPA Jatiwaringin yang semula hanya mencakup area seluas 3 hektar, kini dilaporkan telah melahap hampir 15 hektar dari total luas lahan 33 hektar. Perluasan yang masif ini terjadi akibat akumulasi gas metana di bawah tumpukan sampah yang memicu api terus berkobar meski permukaan sudah disiram air.
Kondisi Darurat dan Intervensi Udara
Melihat situasi yang kian mengkhawatirkan, pemerintah telah menetapkan status tanggap darurat. Sebanyak 19 unit mobil pemadam kebakaran dan sedikitnya 100 personel dikerahkan untuk menjinakkan si jago merah. Tidak hanya melalui jalur darat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menerjunkan dua unit helikopter water bombing untuk mengguyur titik api dari udara.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, yang meninjau langsung lokasi kejadian, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak kesehatan jangka panjang. Ia didampingi jajaran Deputi KLH dan Bupati Tangerang guna memastikan penanganan berjalan efektif. Menurutnya, karakter kebakaran di TPA Jatiwaringin jauh lebih berisiko dibandingkan kebakaran hutan atau lahan gambut biasa.
“Ini lebih berbahaya dari gambut. Di sini ada kandungan metana dan kedalaman tumpukan sampah mencapai 20 hingga 30 meter. Api bisa saja terlihat padam di permukaan, namun di bawah sana suhu masih sangat tinggi dan api terus merambat,” ungkap Deputi Gakkum KLH, Rizal Irawan, saat memberikan penjelasan teknis di lokasi.
Ironi di Balik Musibah: Jadi Tontonan Warga
Di tengah perjuangan petugas BPBD Tangerang dan tim Manggala Agni melawan asap, muncul fenomena yang cukup mencengangkan. Lokasi bencana justru dipadati oleh warga sekitar yang datang untuk menonton proses pemadaman. Libur sekolah menjadi alasan utama bagi para orang tua membawa anak-anak mereka menyaksikan kobaran asap sebagai bentuk hiburan gratis.
Kapolresta Tangerang, Kombes Andi Muhammad Indra Waspada, mengakui pihaknya kewalahan mengimbau masyarakat untuk menjauh. “Masyarakat berdalih ini musim libur. Bahkan ada yang mengeluh saat dilarang, membandingkan aktivitas menonton kebakaran ini dengan pergi ke mal,” ujar Andi. Guna meminimalisir risiko, kepolisian telah mendirikan empat pos pengamanan berlapis untuk membatasi akses warga ke area terdampak.
Ancaman ISPA dan Zat Karsinogenik
Pemerintah dengan tegas memperingatkan bahwa asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah plastik dan limbah rumah tangga mengandung zat berbahaya yang bersifat karsinogenik. Paparan asap ini tidak hanya memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), tetapi juga ancaman kesehatan fatal lainnya jika terhirup dalam jangka waktu lama.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih terus bersiaga 24 jam di lokasi. Pemantauan menggunakan drone thermal terus dilakukan untuk memetakan ratusan titik panas tersembunyi guna memastikan pemadaman kebakaran bisa diselesaikan secara tuntas sebelum dampak lingkungan semakin meluas ke pemukiman penduduk sekitar.