Ikuti Kami
kabarmalam.com

Kisah di Balik Kedekatan Presiden Prabowo dan NU: Dari Tetangga Gus Dur Hingga Semangat Patriotik ‘Ya Lal Wathon’

Husnul | kabarmalam.com
Selasa, 23 Jun 2026 17:04 WIB
Kisah di Balik Kedekatan Presiden Prabowo dan NU: Dari Tetangga Gus Dur Hingga Semangat Patriotik 'Ya Lal Wathon'

Kabarmalam.com — Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Di hadapan ribuan warga Nahdliyin, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan sebuah pengakuan jujur mengenai kedekatan emosionalnya yang telah terjalin selama puluhan tahun dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Akar Sejarah dan Kedekatan Personal

Bagi Presiden Prabowo, berada di lingkungan Nahdlatul Ulama bukanlah hal yang baru atau terasa asing. Dalam pidatonya yang mengalir santai namun sarat makna, ia mengaku selalu merasa aman dan nyaman setiap kali dikelilingi oleh keluarga besar NU. Kedekatan ini, menurutnya, berakar dari sejarah panjang keluarganya sendiri.

“Memang saya merasa selalu nyaman di tengah-tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama. Nyaman dan aman, merasa aman. Sambutan yang demikian besar diberikan kepada saya,” tutur Prabowo dengan nada haru. Ia kemudian mengenang masa kecilnya di Jakarta, di mana ia bertumbuh besar sebagai tetangga dari mendiang KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Tak hanya itu, Prabowo juga mengungkapkan fakta historis bahwa eyang putrinya merupakan sosok yang berasal dari kalangan NU.

Baca Juga  Seskab Teddy Indra Wijaya dan Kepala BNN Perkuat Sinergi Perangi Narkoba, Soroti Ancaman Lewat Vape

Sintesis Nasionalisme dan Religi

Dalam pandangan Prabowo, NU memiliki karakteristik unik yang sulit ditemukan pada organisasi lain. Ia menyoroti bagaimana NU berhasil menyatukan nilai-nilai keagamaan dengan semangat patriotisme yang menyala. Menurutnya, NU adalah representasi dari organisasi yang agamis namun sekaligus sangat nasionalis dan cinta tanah air.

Kekaguman ini salah satunya ia sandarkan pada tradisi lagu-lagu NU, khususnya lagu ‘Ya Lal Wathon’. Prabowo mencermati bahwa lagu tersebut telah diciptakan jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, namun liriknya sudah mengandung semangat bela negara yang sangat kuat.

“Ada satu ciri khas yang saya perhatikan sejak dulu, bahwa Nahdlatul Ulama adalah organisasi keagamaan tapi sangat patriotik. Sampai-sampai lagunya NU, yang ditulis sebelum Indonesia merdeka, sudah mengandung nilai-nilai cinta tanah air yang luar biasa,” ungkapnya disambut tepuk tangan riuh para hadirin.

Baca Juga  Langkah Strategis Polri: Ribuan Satuan Pelayanan Gizi Siap Sokong Program Makan Bergizi Gratis

Kelakar ‘Salam Komando’ dan Semangat Prajurit

Bukan Prabowo namanya jika tidak menyisipkan selera humor dalam pidatonya. Ia sempat melemparkan kelakar mengenai gestur warga NU saat menyanyikan ‘Ya Lal Wathon’. Ia memperhatikan bahwa setiap kali lagu itu dikumandangkan, warga NU selalu mengepalkan tangan dengan penuh semangat, layaknya seorang prajurit militer.

“Bahkan saat menyanyi, tangannya pun harus kepalan. Ini luar biasa, sebelum ada Kopassus, NU sudah lebih dari Kopassus. Kalau sekarang di TNI ada pose salam komando saat foto, NU sudah melakukannya jauh sebelum merdeka,” candanya yang mengundang tawa dari seluruh peserta Munas Alim Ulama.

Kehadiran Tokoh Penting

Acara yang berlangsung khidmat di Bangkalan tersebut juga dihadiri oleh deretan pejabat tinggi negara dan tokoh nasional. Terlihat hadir Ketua MPR Ahmad Muzani, Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), serta Menko Pangan Zulkifli Hasan.

Baca Juga  Miris! Demi Konten Viral, Sejumlah Siswa SD dan SMP di Pandeglang Nekat Gelar Simulasi Tawuran

Selain itu, tampak pula Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, hingga tokoh perempuan NU, Khofifah Indar Parawansa. Kehadiran para menteri kabinet ini seolah menegaskan betapa strategisnya posisi NU dalam menjaga stabilitas dan pembangunan bangsa ke depan.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul