Presiden Prabowo Subianto Soroti Paradoks Nuklir: Antara Kemajuan Medis dan Ancaman Punahnya Peradaban
Minggu, 28 Jun 2026 13:34 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah pesatnya perkembangan sains global, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melontarkan peringatan serius mengenai masa depan umat manusia. Dalam sebuah pidato yang sarat akan makna filosofis dan strategis, ia mengibaratkan teknologi modern layaknya nuklir—sebuah instrumen yang mampu membawa kemakmuran luar biasa, namun di sisi lain memiliki potensi untuk menghancurkan seluruh peradaban tanpa sisa.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat menghadiri penutupan Sarasehan KSTI yang mempertemukan para rektor dan guru besar di JCC, Senayan, Jakarta, pada Minggu (28/6/2026). Di hadapan para akademisi, Prabowo menekankan bahwa batas-batas geografis kini kian memudar akibat kemajuan teknologi yang membuat dunia terasa semakin sempit.
Dampak Global yang Tidak Terhindarkan
Prabowo menggarisbawahi bahwa posisi Indonesia yang netral tidak menjamin keamanan mutlak jika terjadi konflik berskala besar di belahan dunia lain. Menurutnya, sebuah letusan perang nuklir yang terjadi belasan ribu kilometer jauhnya akan tetap memberikan efek domino yang merusak bagi kehidupan rakyat di tanah air.
“Bumi kita, planet kita, sudah semakin menjadi kecil karena sains dan teknologi. Sekarang, kejadian belasan ribu kilometer berpengaruh kepada kehidupan kita. Kita tidak bertikai, kita tidak bermusuhan sama siapa, tapi kalau ada perang nuklir di satu belahan dunia, kita akan kena dampaknya,” ujar Prabowo dengan nada naratif yang tegas.
Teknologi sebagai Solusi Permasalahan Bangsa
Meski mewaspadai risikonya, Presiden tetap meyakini bahwa inovasi teknologi adalah kunci utama dalam melayani rakyat secara efektif. Ia menceritakan bagaimana efisiensi digital telah membantu pemerintah mendeteksi dan menyelesaikan problematika di daerah terpencil, seperti di Nias, dengan durasi yang jauh lebih singkat dari metode konvensional.
Bagi Prabowo, keberanian untuk mengakui kekurangan dan menghadapi kesulitan adalah ciri utama dari bangsa yang sukses. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya terus membuka diri terhadap masukan dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kaum akademisi hingga aspirasi anak desa yang disampaikan melalui media sosial.
Dua Sisi Mata Uang Nuklir
Menutup paparannya, Prabowo kembali menyinggung paradoks nuklir sebagai contoh konkret dari dualisme teknologi. Ia mengakui bahwa energi nuklir merupakan salah satu sumber energi paling murah dan relatif bersih, serta memiliki manfaat vital dalam dunia medis dan ketahanan pangan melalui sektor pertanian.
Namun, peringatan keras tetap ia selipkan sebagai pengingat bagi para pemegang kebijakan dan ilmuwan. “Tapi kita tahu juga teknologi juga belum tentu selalu positif bagi manusia. Nuklir untuk medis, nuklir untuk pertanian, iya. Tapi nuklir bisa menghabiskan peradaban manusia secara langsung, saudara-saudara,” pungkasnya dalam sebuah refleksi mendalam mengenai masa depan dunia.