Ambisi Tanpa Batas Benjamin Netanyahu: Kembali Bertarung di Pemilu Israel Meski Diterpa Isu Kesehatan dan Kritik Trump
Rabu, 10 Jun 2026 21:34 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah pusaran konflik yang tak kunjung reda dan tekanan politik dari berbagai penjuru, Benjamin Netanyahu tampaknya belum siap untuk meletakkan tongkat estafet kepemimpinannya. Partai Likud, kekuatan sayap kanan yang menjadi kendaraan politik utamanya, secara resmi mengumumkan bahwa sang ‘King Bibi’ akan kembali bertarung dalam pemilihan nasional mendatang. Langkah berani ini seolah menjawab keraguan yang sempat dilontarkan oleh sekutu dekatnya di Amerika Serikat, Donald Trump.
Keputusan Netanyahu untuk kembali mencalonkan diri mencuat ke publik pada Rabu (10/6/2026). Pengumuman ini bukan sekadar rutinitas politik biasa, melainkan sebuah pernyataan keteguhan di saat posisi Netanyahu sedang diuji dari berbagai sisi, mulai dari medan perang hingga meja hijau terkait kasus korupsi yang membelitnya.
Menepis Keraguan dari Washington
Spekulasi mengenai masa depan politik pria berusia 76 tahun ini sempat memanas setelah Donald Trump secara terbuka mempertanyakan motivasi Netanyahu. Dalam sebuah wawancara dengan ABC News, Trump menyatakan ketidaktahuannya mengenai rencana jangka panjang Netanyahu. Trump menyoroti karier panjang Netanyahu dan beban berat yang harus dipikul sebagai perdana menteri di tengah kondisi perang yang melelahkan.
“Perdana Menteri Netanyahu akan maju dalam pemilihan berikutnya dan, jika Tuhan menghendaki, dia akan menang,” tegas Partai Likud melalui pernyataan resmi di kanal Telegram mereka. Pernyataan ini sekaligus menjadi balasan atas sentilan Trump yang menyebut Netanyahu sebagai pemimpin di masa perang yang mungkin sudah merasa cukup dengan karier panjangnya.
Bertahan di Tengah Badai Kesehatan dan Hukum
Perjalanan politik Netanyahu dalam beberapa tahun terakhir tidaklah mulus. Selain harus menghadapi sidang korupsi yang terus berjalan, kondisi fisiknya juga menjadi sorotan publik. Belum lama ini, Netanyahu mengungkapkan bahwa dirinya baru saja menjalani prosedur medis untuk mengangkat tumor ganas stadium awal pada prostatnya.
Catatan medis menunjukkan bahwa sang Perdana Menteri telah beberapa kali keluar masuk rumah sakit sejak kembali menjabat pada Desember 2022. Mulai dari operasi hernia pada Maret 2024 hingga tindakan medis pada prostat di akhir tahun yang sama. Namun, serangkaian kendala kesehatan tersebut tampaknya tidak menyurutkan ambisinya untuk tetap memimpin Israel hingga akhir Oktober mendatang, sesuai jadwal pemilu yang telah ditetapkan.
Memimpin di Tiga Front Perang
Sejarah akan mencatat Netanyahu sebagai pemimpin dengan masa jabatan terpanjang di Israel, namun ia juga memikul tanggung jawab atas eskalasi militer yang masif. Saat ini, ia tengah mengomandoi operasi militer di tiga front yang saling berkaitan:
- Jalur Gaza: Melanjutkan tekanan terhadap kekuatan Hamas meskipun desakan gencatan senjata terus bergema.
- Lebanon: Menghadapi konfrontasi dengan kelompok Hizbullah yang didukung penuh oleh Iran.
- Iran: Terlibat dalam aksi saling serang yang dramatis bersama Amerika Serikat, yang telah mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Ketegangan antara Netanyahu dan Trump sebenarnya sudah tercium publik beberapa hari sebelum pengumuman ini. Trump sempat menunjukkan kekesalannya dalam sebuah ledakan kemarahan yang emosional terhadap Netanyahu. Meski demikian, Netanyahu tetap menunjukkan sikap tenang di hadapan media, termasuk saat tampil di CNBC, di mana ia memilih untuk meremehkan perselisihan tersebut dan fokus pada agenda politiknya di dalam negeri.
Kini, publik Israel dan dunia internasional akan menyaksikan apakah strategi ‘tangan besi’ dan daya tahan politik Netanyahu akan mampu membawanya kembali menduduki kursi nomor satu di Israel untuk kesekian kalinya.