Mendedah ‘Laku Spiritual’ Pak Harto: Rahasia Sang Jenderal Memilih Menteri Melalui Kearifan Jawa
Senin, 08 Jun 2026 16:34 WIB
Kabarmalam.com — Tabir kehidupan spiritual Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, kembali tersingkap melalui sebuah karya literasi yang mendalam. Buku bertajuk ‘Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen’ resmi diluncurkan di Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), Salemba, Jakarta Pusat, pada Senin (8/6/2026). Karya ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan jendela untuk memahami bagaimana filosofi hidup sang ‘The Smiling General’ memengaruhi kebijakan strategisnya, termasuk dalam memilih para pembantunya di pemerintahan.
Hadirnya buku ini merupakan buah kolaborasi apik antara Yayasan Kalian Citra Bangsa (YKCB), Universitas Trilogi (Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia Jakarta), dan Penerbit Buku Kompas. Sang penulis, B. Wiwoho, bukanlah orang baru di lingkaran kekuasaan. Ia telah menorehkan jejaknya sebagai wartawan istana sejak tahun 1972, sebuah posisi yang memberinya akses istimewa untuk mengamati perilaku keseharian Soeharto dari jarak dekat.
Antara Intuisi, Primbon, dan Analisis Modern
Dalam pemaparannya, Wiwoho menjelaskan bahwa buku ini berusaha meluruskan persepsi publik yang sering kali menyalahartikan laku spiritual Soeharto sebagai hal yang bersifat mistis-klenik. Alih-alih terjebak dalam narasi makhluk gaib, Wiwoho justru menemukan sebuah metode berpikir yang sistematis di balik laku prihatin sang presiden.
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah penggunaan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threats) ala budaya Jawa. Wiwoho menyebutnya sebagai bentuk rasionalisasi dari primbon jawa. “Saya menggunakan uraian dan istilah yang lebih modern untuk menjelaskan bagaimana Primbon Jawa digunakan untuk membaca keadaan. Ini bukan soal ramalan buta, melainkan analisa mendalam terhadap situasi,” ungkap Wiwoho.
Metode ini pula yang konon menjadi kompas bagi Soeharto dalam menyeleksi orang-orang yang duduk di kursi kementerian. Kecocokan karakter, waktu, dan momentum dipadukan dengan perhitungan matang yang berakar pada tradisi leluhur.
Menjaga Akar Budaya dalam Kepemimpinan
Sementara itu, Tri Agung Kristanto dari Penerbit Buku Kompas memberikan perspektif tambahan mengenai posisi kejawen dalam kepemimpinan nasional. Menurutnya, buku karya Pak Wi—sapaan akrab Wiwoho—menjawab keraguan publik mengenai keyakinan Soeharto. Ia menegaskan bahwa apa yang dijalankan Soeharto adalah bentuk pemeliharaan terhadap kearifan lokal.
“Pak Harto memiliki keyakinan yang berangkat dari akar budaya kita sendiri. Ini bukan berarti menduakan Tuhan, melainkan cara pemimpin kita menjaga nilai-nilai luhur bangsa,” ujar Tri Agung. Ia menambahkan bahwa kearifan lokal semacam ini sebenarnya menjadi fondasi bagi banyak pemimpin besar di Indonesia untuk tetap membumi meski berada di puncak kekuasaan.
Peluncuran buku ini diharapkan mampu memperkaya khazanah literasi sejarah Indonesia, sekaligus memberikan sudut pandang baru yang lebih objektif dalam melihat sisi personal seorang tokoh besar yang pernah memimpin Indonesia selama tiga dekade.