Gorengan Jadi Primadona, Ternyata Ini Wilayah dengan Anggaran Jajan Tertinggi di Indonesia
Minggu, 07 Jun 2026 19:04 WIB
Kabarmalam.com — Budaya ‘jajan’ atau kebiasaan membeli makanan dan minuman siap saji telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan masyarakat Indonesia. Berdasarkan data terbaru yang dirilis dalam dokumen Statistik Konsumsi Pangan 2025, tren konsumsi ini mengungkapkan berbagai fakta menarik mengenai peta pengeluaran rumah tangga di berbagai penjuru negeri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap produk olahan pangan di luar rumah. Menariknya, terdapat kesenjangan yang cukup mencolok antara gaya hidup masyarakat di wilayah perkotaan dan perdesaan. Penduduk kota rata-rata mengalokasikan dana sebesar Rp 294.188 per kapita setiap bulannya untuk memuaskan hasrat makanan dan minuman jadi. Angka ini jauh melampaui rata-rata pengeluaran warga di desa yang hanya berkisar di angka Rp 181.387 per bulan.
Gorengan: Sang Penguasa Lidah Nasional
Dalam daftar camilan favorit, satu nama tetap kokoh berada di puncak tahta: gorengan. Kudapan renyah ini terbukti menjadi juara di hati sanubari masyarakat Indonesia secara nasional. Teksturnya yang memikat dan kemudahannya ditemukan di setiap sudut jalan membuat gorengan bukan sekadar makanan, melainkan identitas kuliner yang menyatukan berbagai lapisan sosial.
Kejutan dari Timur Indonesia
Namun, kejutan terbesar muncul saat melihat data geografis pengeluaran jajan. Banyak yang berasumsi bahwa Jakarta, dengan segala hiruk-pikuk gaya hidup modernnya, akan menduduki posisi puncak sebagai wilayah paling boros untuk urusan jajan. Nyatanya, status tersebut justru disandang oleh Papua Pegunungan.
Provinsi di ujung timur Indonesia ini tercatat memiliki rata-rata pengeluaran penduduk untuk kelompok makanan dan minuman jadi yang paling tinggi di tanah air. Hal ini memberikan perspektif baru mengenai dinamika ekonomi dan pola konsumsi di wilayah pegunungan yang mungkin dipengaruhi oleh aksesibilitas serta biaya distribusi logistik di sana.
Secara keseluruhan, laporan ini memberikan gambaran jernih bahwa aktivitas jajan bukan lagi sekadar hobi, melainkan indikator ekonomi yang krusial dalam mencerminkan daya beli dan preferensi kuliner bangsa Indonesia saat ini.