Visi Swasembada Gula 2028: Menkop Ferry Juliantono Dorong Koperasi Jadi Pemain Utama Industri Nasional
Sabtu, 06 Jun 2026 20:34 WIB
Kabarmalam.com — Upaya memperkuat kedaulatan pangan, khususnya di sektor pemanis nasional, kini memasuki babak baru dengan menempatkan koperasi sebagai garda terdepan. Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono, secara tegas menekankan bahwa sudah saatnya koperasi tidak lagi menjadi penonton, melainkan pemain kunci dalam ekosistem industri gula nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Ferry saat mengunjungi fasilitas produksi PT Indogula Jayabaya yang terletak di area persawahan strategis, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Dalam kunjungannya, Menkop memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi sinergis antara Koperasi Konsumen KANA Lautan Berkat dengan Koperasi Petani Tebu, Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya Kediri, dan PT Indogula Jayabaya. Kemitraan ini dinilai sebagai model ideal untuk memperkuat struktur ekonomi kerakyatan di daerah.
Mendorong Ekonomi Lokal dan Kesejahteraan Petani
Menkop Ferry Juliantono berharap agar kemitraan ini mampu menyerap lebih banyak keterlibatan petani tebu lokal serta memberdayakan tenaga kerja dari lingkungan sekitar industri. Menurutnya, dampak ekonomi dari operasional pabrik dan koperasi harus dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
“Tujuannya jelas, agar manfaat pendapatan yang dihasilkan dapat langsung meningkatkan kesejahteraan para petani dan memperkuat fondasi ekonomi rakyat, khususnya di Kabupaten Kediri,” ujar Ferry dengan nada optimis.
Data menunjukkan tantangan besar masih membentang di depan mata. Pada tahun 2025, produksi gula nasional diproyeksikan baru mencapai sekitar 2,67 juta ton, sementara kebutuhan nasional melonjak hingga 9,1 juta ton per tahun. Kesenjangan yang cukup lebar ini, menurut Menkop, justru merupakan peluang emas bagi koperasi untuk melakukan ekspansi besar-besaran.
Menuju Swasembada Gula Tahun 2028
Pemerintah sendiri telah memasang target ambisius untuk mencapai swasembada gula konsumsi pada tahun 2028. Untuk mewujudkan hal tersebut, Ferry menegaskan perlunya integrasi total dari hulu ke hilir. Koperasi memiliki peran krusial sebagai offtaker yang menjamin penyerapan hasil panen petani dengan harga yang adil, sehingga memberikan kepastian usaha bagi para anggota.
“Ke depan, koperasi harus naik kelas. Tidak boleh hanya sekadar mengumpulkan hasil panen, tetapi harus menjadi pelaku usaha yang mampu menciptakan nilai tambah melalui proses pengolahan,” tambahnya. Ia bahkan memberikan ide segar agar koperasi mulai memproduksi turunan gula, seperti membangun pabrik kecap yang hasilnya bisa dipasarkan melalui jaringan Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih.
Dukungan Pembiayaan dan Standar Global
Untuk mendukung transformasi ini, kementerian melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) siap memberikan sokongan pembiayaan bagi pengembangan bisnis koperasi. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden agar koperasi menjadi badan usaha yang tangguh, kompetitif, dan tidak kalah bersaing dengan pihak swasta maupun BUMN.
Di sisi lain, Ketua Koperasi Konsumen KANA, Jonathan Danang Wardhana, mengungkapkan bahwa langkah nyata ini telah menarik perhatian mitra internasional. Ia menyebutkan adanya minat dari investor asal Swiss yang melihat potensi besar dalam sektor riil koperasi di Indonesia. Sementara itu, Ketua Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya Kediri, Desi Permatasari, optimis bahwa sinergi antara petani dan pelaku ekonomi ini akan menjadi motor penggerak utama dalam mendukung pertumbuhan produksi gula nasional secara berkelanjutan.