Misteri Teror Api di Sleman: Rumah Fia Terbakar 73 Kali dalam 10 Hari, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Senin, 01 Jun 2026 18:33 WIB
Kabarmalam.com — Ketenangan warga di Dusun Kasuran Mriyan X, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, terusik oleh rentetan peristiwa ganjil yang menimpa kediaman Mutfiana. Fenomena kebakaran misterius ini telah terjadi sebanyak 73 kali hanya dalam kurun waktu 10 hari. Sejak percikan api pertama muncul pada Sabtu (23/5), teror api seolah tak kunjung padam hingga puncaknya kembali terjadi pada Senin (1/6) siang.
Kronologi Teror Api yang Meresahkan
Mutfiana, atau yang akrab disapa Fia, mengisahkan betapa mencekamnya situasi di rumahnya. Api muncul secara acak dan tiba-tiba membakar benda-benda di sekitarnya, mulai dari pakaian yang tergantung hingga perabotan rumah tangga. “Hingga hari ini, total sudah ada 73 kali kejadian di sekitar 65 titik berbeda,” ungkap Fia saat ditemui di kediamannya di Sleman.
Intensitas kemunculan api ini tergolong sangat tinggi, dengan rata-rata 7 hingga 9 kali kejadian dalam sehari. Bahkan, saat tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang berada di lokasi untuk melakukan observasi, api kembali berkobar di salah satu ruangan yang kosong. Barang-barang berbahan kain, kardus, hingga sofa menjadi sasaran empuk si jago merah yang muncul entah dari mana.
Penelusuran Geolog: Jejak Gas Metana dari Masa Lalu
Menanggapi fenomena yang sempat dikaitkan dengan hal mistis ini, tim pakar geologi dari UPN “Veteran” Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada terjun langsung untuk melakukan investigasi mendalam. Hasilnya, sebuah fakta ilmiah mulai terungkap ke permukaan.
Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN “Veteran” Jogja, Prof. Dr. Ir. RM. Basuki Rahmad, mengungkapkan bahwa timnya menemukan indikasi kuat adanya sumber gas alam di kawasan sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah Fia. Tepat di bawah jembatan Jalan Nepen, ditemukan gelembung-gelembung gas yang muncul dari genangan air di antara singkapan batuan gelap.
“Indikasi kuatnya adalah gas metana atau CH4. Wilayah ini diduga kuat dulunya merupakan bekas rawa,” jelas Basuki. Batuan berwarna gelap tersebut disinyalir menjadi wadah penyimpanan gas metana purba yang, ketika mencapai titik jenuh, akan bermigrasi melalui retakan atau patahan di bawah tanah hingga mencapai pemukiman warga.
Mengapa Pakaian dan Sofa Bisa Terbakar Sendiri?
Penjelasan lebih rinci mengenai mekanisme munculnya api disampaikan oleh Dr. Sarju Winardi, pakar dari Departemen Teknik Geologi UGM. Menurutnya, gas metana yang bermigrasi dari bawah tanah cenderung terjebak dan menumpuk pada benda-benda yang memiliki pori-pori besar.
“Material berpori seperti sofa, kain, dan pakaian memiliki kemampuan menyimpan gas. Ketika akumulasi gas tersebut sudah cukup banyak dan berinteraksi dengan oksigen di area bersuhu tinggi, maka api akan tersulut secara spontan,” papar Sarju. Pengukuran menggunakan kamera termal memang menunjukkan adanya titik-titik suhu panas di beberapa sudut rumah Fia yang menjadi lokasi munculnya api.
Langkah Antisipasi dan Penelitian Lanjutan
Meski penyebab ilmiah sudah mulai terang benderang, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama. Tim Geologi UGM berencana melakukan pemeriksaan ulang pekan depan untuk mengukur kadar gas secara lebih presisi serta mengambil sampel air sumur warga. Ada kekhawatiran bahwa aliran air tanah juga telah terkontaminasi gas metana, yang dapat memicu api saat gas tersebut terlepas ke udara bebas.
Bagi Fia dan keluarganya, penjelasan ilmiah ini memberikan sedikit rasa lega di tengah trauma yang melanda. “Sekarang terasa lebih tenang karena tahu ini bukan masalah mistis, melainkan fenomena alam yang bisa dipelajari secara ilmiah. Namun, kami tetap harus waspada sampai situasi benar-benar aman,” tutupnya.