Malam Kelam di Prancis: Euforia Juara PSG Berakhir dengan Kerusuhan dan Ratusan Penangkapan
Senin, 01 Jun 2026 15:33 WIB
Kabarmalam.com — Euforia kemenangan Paris Saint-Germain (PSG) di ajang bergengsi Liga Champions harus dibayar mahal dengan pecahnya aksi anarkis di berbagai sudut Prancis. Alih-alih merayakan gelar juara dengan damai, ribuan massa justru terlibat bentrokan hebat dengan aparat keamanan, yang berujung pada penangkapan ratusan orang oleh pihak kepolisian.
Keberhasilan PSG mengamankan trofi si Kuping Besar untuk kedua kalinya secara berturut-turut di Budapest, Hungaria, Sabtu (30/5) malam, memicu gelombang perayaan besar-besaran di tanah air mereka. Namun, atmosfer kegembiraan itu segera sirna ketika kelompok pemuda mulai melakukan tindakan destruktif di jalanan. Aksi pembakaran mobil, penjarahan toko, hingga penyerangan terang-terangan terhadap petugas menjadi pemandangan kelam di Paris dan beberapa kota besar lainnya di Prancis.
Skala Kerusuhan yang Mengkhawatirkan
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, mengungkapkan bahwa skala kekerasan tahun ini meningkat tajam dibandingkan periode sebelumnya. Berdasarkan laporan resmi yang diterima, otoritas keamanan telah mengamankan setidaknya 890 orang yang diduga terlibat langsung dalam aksi kerusuhan tersebut.
“Kami telah melakukan lebih dari 890 penangkapan. Secara statistik, angka ini melonjak 45 persen lebih tinggi daripada tahun lalu,” ujar Nunez dalam sebuah wawancara dengan televisi France Inter. Ketegangan di lapangan juga memakan korban di sisi penegak hukum, di mana hampir 180 personel kepolisian dilaporkan mengalami luka-luka saat mencoba meredam amuk massa yang beringas.
Tragedi di Tengah Perayaan Kemenangan
Kekacauan ini tidak hanya meninggalkan kerusakan materiil yang besar, tetapi juga duka mendalam. Seorang pria dilaporkan tewas dalam sebuah insiden kecelakaan saat mengendarai sepeda motor di jalan lingkar Paris di tengah hiruk-pikuk perayaan. Tak hanya itu, pihak berwenang juga mencatat adanya rentetan aksi penusukan dan berbagai serangan fisik lainnya yang sangat mencoreng semangat sportivitas dunia sepak bola.
Kecaman Keras dari Istana Elysee
Meski sempat menjamu tim PSG di Istana Elysee pada Minggu (31/5) malam sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang disebutnya sebagai “kebanggaan luar biasa”, Presiden Emmanuel Macron tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Ia mengutuk keras tindakan brutal yang dilakukan oleh oknum-oknum yang memanfaatkan momen kemenangan tersebut untuk berbuat onar.
“Cukup sudah. Kita semua sudah muak dengan perilaku seperti ini,” tegas Macron dengan nada geram dalam pernyataan resminya. Baginya, kekerasan yang terjadi sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai olahraga yang dicintai masyarakat dunia. “Ini bukan sepak bola, ini bukan olahraga. Hal-hal seperti ini bukanlah apa yang kita cintai dari sebuah pertandingan,” tambahnya menutup pembicaraan.
Hingga saat ini, otoritas keamanan masih terus bersiaga untuk mengantisipasi adanya aksi susulan dan memastikan kondisi di berbagai titik kota kembali kondusif setelah malam yang penuh ketegangan tersebut.