Ikuti Kami
kabarmalam.com

Langkah Progresif Kemenkes: Skrining Kanker Kolorektal Kini Tersedia dalam Program Cek Kesehatan Gratis

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 01 Jun 2026 18:34 WIB
Langkah Progresif Kemenkes: Skrining Kanker Kolorektal Kini Tersedia dalam Program Cek Kesehatan Gratis

Kabarmalam.com — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus memperkuat benteng pertahanan di sektor hulu kesehatan dengan memperluas jangkauan layanan preventif. Kabar terbaru menyebutkan bahwa layanan skrining kanker kolorektal atau kanker usus besar kini resmi menjadi bagian dari Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Nasional.

Langkah strategis ini secara khusus menyasar kelompok masyarakat berusia 45 tahun ke atas, yang menurut data medis merupakan populasi dengan tingkat risiko tertinggi. Kehadiran program ini diharapkan mampu memutus rantai keterlambatan diagnosis yang selama ini menjadi momok bagi penanganan kanker di tanah air.

Urgensi Deteksi Dini di Tengah Ancaman Kanker Usus

Penyakit kanker kolorektal bukanlah persoalan ringan. Di panggung global, penyakit ini menduduki posisi ketiga sebagai jenis kanker yang paling sering ditemukan, dengan angka mencapai 1,9 juta kasus baru setiap tahunnya. Di Indonesia, situasinya tak kalah mengkhawatirkan: kanker usus berada di peringkat keempat untuk jumlah kasus terbanyak dan menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi kelima.

Baca Juga  Jus vs Buah Potong: Mengapa Versi Utuh Lebih Ampuh Menjaga Gula Darah?

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyoroti fakta memilukan di mana lebih dari 70 persen pasien kanker kolorektal baru datang ke fasilitas kesehatan saat penyakit sudah mencapai stadium lanjut. “Bukan karena penyakit ini tidak bisa diobati, melainkan karena minimnya deteksi sejak dini,” tegas Dante dalam keterangannya baru-baru ini.

Mengenal Alur Skrining Berlapis

Untuk memastikan efektivitas deteksi, Kementerian Kesehatan menerapkan metode pemeriksaan yang komprehensif dan terstruktur. Masyarakat yang masuk dalam kategori risiko akan menjalani beberapa tahapan pemeriksaan dalam program CKG ini:

  • Tahap Awal: Melakukan pengisian kuesioner skrining kolorektal secara mendalam untuk memetakan risiko personal.
  • Tahap Lanjutan: Pemeriksaan fisik melalui prosedur colok dubur digital oleh tenaga medis profesional.
  • Tahap Spesifik: Bagi mereka yang teridentifikasi memiliki risiko tinggi, akan dilakukan tes darah samar tinja atau Fecal Occult Blood Test (FOBT).
Baca Juga  Transformasi Drastis Shindy Samuel: Perjuangan Melawan Obesitas Morbid hingga Pangkas 104 Kilogram

Realitas Biaya Pengobatan dan Peran BPJS

Meskipun upaya pencegahan kini digratiskan, tantangan besar masih membayangi di sisi kuratif. Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa meski BPJS Kesehatan menanggung biaya pengobatan kanker secara umum, ada batasan untuk prosedur atau obat-obatan tertentu yang bersifat sangat mutakhir.

Beberapa jenis targeted therapy yang digunakan untuk menangani kasus kanker yang telah mengalami metastasis (penyebaran) masih memiliki kendala dalam cakupan asuransi karena biayanya yang sangat fantastis. Kondisi inilah yang membuat pemerintah semakin gencar mengedukasi masyarakat bahwa mencegah jauh lebih baik dan jauh lebih murah daripada mengobati.

Melalui integrasi skrining ini ke dalam layanan gratis nasional, masyarakat diimbau untuk tidak lagi menunda pemeriksaan. Dengan gaya hidup sehat dan pemanfaatan fasilitas cek kesehatan secara berkala, risiko kematian akibat kanker usus besar diharapkan dapat ditekan secara signifikan di masa depan.

Baca Juga  Wamenkes Dante Saksono Bicara Soal WFH Bagi Tenaga Medis: 'Work From Hospital' Tetap Jadi Prioritas
Tentang Penulis
Wahid
Wahid