Ikuti Kami
kabarmalam.com

Anak Alami Intoleransi Laktosa? Ternyata Tak Perlu Berhenti Minum Susu Sepenuhnya

Wahid | kabarmalam.com
Senin, 01 Jun 2026 15:04 WIB
Anak Alami Intoleransi Laktosa? Ternyata Tak Perlu Berhenti Minum Susu Sepenuhnya

Kabarmalam.com — Rasa khawatir sering kali menyergap para orang tua saat mengetahui buah hatinya mengalami intoleransi laktosa. Susu, yang selama ini diagung-agungkan sebagai pilar utama tumbuh kembang anak, tiba-tiba terasa seperti ancaman yang harus dihindari. Namun, benarkah konsumsi susu harus dihentikan secara total?

Memahami Batas Toleransi, Bukan Larangan Mutlak

Banyak anggapan keliru yang beredar di masyarakat bahwa diagnosis intoleransi laktosa berarti akhir dari konsumsi produk susu. Padahal, menurut pakar gizi klinik dr. Diana Felicia Suganda, M.Kes, SpGK, kondisi ini bukan berarti tubuh menolak susu secara keseluruhan. Ia menekankan bahwa orang tua tetap bisa memberikan susu kepada anak, asalkan dengan strategi yang tepat.

“Kalau intoleransi laktosa sebenarnya bukan berarti kita tidak bisa mengonsumsi susu sama sekali. Santai saja, kita masih bisa memberikannya dalam jumlah yang sedikit,” ungkap dr. Diana dalam sebuah diskusi kesehatan bersama Frisian Flag beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Kematian Dokter Internship FK Unsri Jadi Sorotan, IKA FK Unsri Kawal Ketat Investigasi Kemenkes

Intoleransi laktosa pada dasarnya adalah kondisi di mana tubuh mengalami kesulitan dalam mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu. Karena tingkat sensitivitas setiap anak berbeda-beda, maka batas toleransinya pun tidak bisa dipukul rata. Ada anak yang masih mampu mentoleransi segelas kecil susu, sementara yang lain mungkin hanya bisa mengonsumsi produk olahan seperti keju atau yoghurt.

Strategi Mengatur Porsi dan Frekuensi

Alih-alih langsung menghilangkan susu dari daftar menu harian, dr. Diana menyarankan orang tua untuk lebih jeli dalam mengatur frekuensi pemberiannya. Gejala gangguan pencernaan biasanya baru akan muncul secara signifikan apabila laktosa dikonsumsi dalam jumlah besar atau dalam waktu yang terlalu berdekatan.

Baca Juga  Analisis Tajam Kesehatan Mental Donald Trump: Antara Narsisme Ganas dan Bayang-Bayang Demensia

“Kita tetap berikan sedikit-sedikit. Keluhan intoleransi akan lebih mudah muncul jika, misalnya, kita minum susu setiap hari dengan frekuensi yang sangat sering. Itulah yang memicu reaksi tubuh,” jelasnya. Pendekatan bertahap ini tidak hanya membantu tubuh anak untuk beradaptasi secara perlahan, tetapi juga memastikan nutrisi penting dalam susu tetap bisa diserap optimal tanpa menimbulkan ketidaknyamanan pada perut.

Diversifikasi Sumber Gizi Sebagai Solusi

Meski susu tetap diperbolehkan dalam batas tertentu, dr. Diana juga mengingatkan pentingnya diversifikasi pangan. Jika memang anak menunjukkan reaksi yang cukup sensitif, orang tua memiliki segudang pilihan sumber nutrisi lain yang tak kalah hebat kualitasnya. Saat ini, pilihan produk pengganti yang diformulasikan khusus untuk kebutuhan gizi anak sudah sangat beragam di pasaran.

Baca Juga  Melawan Ancaman Diabetes pada Anak: Mengapa Pola Asuh dan Isi Kulkas Jadi Kunci Utama?

“Kita bisa melakukan switch atau beralih ke sumber nutrisi yang lain. Provider atau penyedia sumber gizinya pun sekarang sudah sangat banyak,” tambah dr. Diana. Hal yang paling krusial adalah menjaga agar asupan zat gizi makro dan mikro anak tetap terpenuhi demi kesehatan anak jangka panjang.

Dengan pemahaman yang benar, intoleransi laktosa bukan lagi menjadi penghalang bagi anak untuk tumbuh sehat. Kuncinya terletak pada pengamatan yang cermat dari orang tua terhadap reaksi tubuh si kecil serta pemilihan pola makan yang seimbang dan beragam.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid