Ikuti Kami
kabarmalam.com

Mengunci Waktu: Benarkah Egg Freezing Menjamin Kehamilan di Masa Depan? Ini Kata Ahli

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 31 Mei 2026 14:34 WIB
Mengunci Waktu: Benarkah Egg Freezing Menjamin Kehamilan di Masa Depan? Ini Kata Ahli

Kabarmalam.com — Tren pembekuan sel telur atau egg freezing kini bukan lagi sekadar gaya hidup di kalangan selebritas, melainkan menjadi sebuah pilihan strategis bagi banyak perempuan modern untuk “menghentikan waktu” biologis mereka. Namun, di balik popularitasnya, muncul sebuah pertanyaan besar: apakah prosedur ini merupakan jaminan mutlak untuk mendapatkan buah hati di masa depan?

Meski teknologi medis telah berkembang pesat, para ahli mengingatkan bahwa prosedur ini bukanlah sebuah kepastian tanpa celah. Kunci utama dari keberhasilan investasi kesehatan reproduksi ini ternyata sangat bergantung pada satu faktor krusial yang tidak bisa dinegosiasikan, yakni usia saat sel telur tersebut dipanen.

Usia Emas: Rahasia di Balik Angka Keberhasilan

Spesialis Obstetri dan Ginekologi sekaligus Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi (KFER) dari Brawijaya Hospital Antasari, dr. M Luky Satria Syahbana Marwali, SpOG, SubspKFER, mengungkapkan bahwa efektivitas prosedur ini memiliki jendela waktu yang sangat spesifik. Beliau menegaskan bahwa melakukan egg freezing di bawah usia 35 tahun adalah langkah paling ideal untuk mendapatkan hasil maksimal.

Baca Juga  Menunda Kehamilan dengan Egg Freezing: Kapan Waktu Paling Tepat bagi Wanita?

“Pada usia tersebut, seorang perempuan cukup mengumpulkan antara 15 hingga 20 sel telur. Dengan jumlah tersebut, kemungkinan keberhasilan untuk mencapai kehamilan bisa menyentuh angka 80 hingga 90 persen untuk satu kelahiran bayi,” jelas dr. Luky dalam sebuah sesi wawancara mendalam.

Tantangan Berat Menembus Usia Kepala Empat

Sebaliknya, narasi akan berubah drastis ketika seorang perempuan baru memutuskan untuk menjalani prosedur ini di usia 40 tahun ke atas. Pada titik ini, tantangan biologis menjadi berlipat ganda karena kualitas dan kuantitas sel telur yang menurun secara signifikan.

Menurut dr. Luky, untuk mengamankan satu peluang kehamilan di usia matang, jumlah sel telur yang harus “ditabung” melonjak tajam. “Misalnya di usia 40, jumlah sel telur yang perlu dikumpulkan harus jauh lebih banyak, bisa mencapai 30 hingga 40 telur,” ungkapnya. Sayangnya, secara alami, pasokan sel telur yang bisa dipanen dalam satu siklus justru semakin menipis seiring bertambahnya usia.

Baca Juga  9 Tahun Menanti, Rifky Alhabsyi Berbagi Kisah Haru di Balik Kelahiran Sang Buah Hati

Kondisi ini menciptakan dilema baru bagi pasien. Karena jumlah sel telur yang didapat dalam satu kali proses stimulasi hormon mungkin hanya sedikit (sekitar 5 sampai 10 butir), pasien terpaksa harus mengulang proses medis tersebut berkali-kali. Hal ini tentu berdampak pada biaya yang lebih tinggi serta beban fisik yang lebih berat akibat suntikan hormon yang berulang demi mengejar target jumlah sel telur yang aman.

Fakta Global dan Realita Medis

Fenomena ini bukan sekadar pengamatan lokal. Data global dari Human Fertilisation and Embryology Authority (HFEA), sebuah badan pengawas kesuburan di Inggris, menunjukkan realita yang cukup ironis. Mayoritas perempuan justru baru memutuskan membekukan sel telur mereka di usia rata-rata 38 tahun, usia di mana kualitas sel telur mulai mengalami penurunan tajam.

Baca Juga  Bukan Lagi PCOS, Kini Berganti Menjadi PMOS: Mengapa Perubahan Nama Ini Sangat Penting bagi Pasien?

Laporan tersebut memperingatkan bahwa peluang melahirkan bayi dari sel telur yang dibekukan pada usia akhir 40-an memiliki persentase yang sangat tipis, bahkan nyaris mendekati nol. Mengapa demikian? Karena secara biologis, penuaan indung telur (ovary) terjadi jauh lebih cepat dibandingkan organ tubuh lainnya. Sel telur yang dipanen di usia tua memiliki risiko tinggi terhadap kelainan kromosom dan potensi keguguran yang lebih besar saat nantinya digunakan dalam program bayi tabung atau IVF.

Oleh karena itu, bagi Anda yang mempertimbangkan prosedur ini sebagai bentuk rencana masa depan, konsultasi dengan tenaga profesional obgyn sejak dini adalah langkah bijak untuk memahami peluang dan realita medis yang ada.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid