Rahasia Sains di Balik Daging Empuk: Mengapa Nanas dan Daun Pepaya Begitu Ampuh?
Rabu, 27 Mei 2026 17:34 WIB
Kabarmalam.com — Pernahkah Anda merasa frustrasi saat menyantap hidangan daging yang terasa alot seperti karet? Persoalan ini sering kali muncul, terutama saat mengolah potongan otot yang tebal atau ketika menerima daging kurban. Namun, nenek moyang kita sebenarnya telah mewariskan solusi cerdas yang kini terbukti secara ilmiah: penggunaan parutan nanas dan bungkusan daun pepaya.
Fenomena dapur ini ternyata bukan sekadar mitos belaka. Pakar teknologi pangan sekaligus Guru Besar IPB University, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, MSc., menjelaskan bahwa bahan-bahan alami tersebut menyimpan kekuatan biologis yang mampu mengubah tekstur daging secara drastis. Kuncinya terletak pada keberadaan enzim aktif yang bekerja memutus serat-serat protein yang membandel.
Mengenal Enzim ‘Pemutus’ Serat: Papain dan Bromelain
Menurut Prof. Pur, panggilan akrabnya, tanaman pepaya—mulai dari daun, buah, hingga getahnya—mengandung enzim protease yang dikenal sebagai papain. Di sisi lain, buah nanas juga memiliki senjata serupa yang disebut enzim bromelain. Kedua jenis enzim ini memiliki tugas khusus, yakni menghidrolisis atau memecah struktur protein pada daging.
“Secara prinsip, enzim ini bekerja layaknya alat pemotong mikro yang memutuskan ikatan rantai protein kompleks,” ungkap Prof. Pur saat memberikan pemaparan mengenai efektivitas bahan alami dalam pelunakan daging.
Efektivitas ini bukan tanpa dasar. Sebuah studi bertajuk “Plant proteases as meat tenderizers” yang dipublikasikan dalam Journal of Food Science and Technology mengonfirmasi bahwa papain dan bromelain berperan sebagai pemutus hidrolitik pada kolagen (jaringan ikat yang membuat daging terasa keras) serta protein miofibrilar pada otot hewan. Secara sederhana, proses ini meniru mekanisme pencernaan manusia, di mana protein kasar mulai “dikunyah” secara kimiawi bahkan sebelum api kompor dinyalakan.
Hati-hati dengan Takaran dan Waktu
Meskipun metode ini sangat efektif untuk mendapatkan tekstur daging yang lembut, Prof. Pur memberikan catatan penting bagi para ibu rumah tangga maupun koki amatir. Penggunaan yang berlebihan atau durasi perendaman yang terlalu lama justru bisa menjadi bumerang bagi kualitas masakan.
Karena sifat enzimnya yang sangat agresif dalam menghancurkan protein, penggunaan nanas yang terlalu banyak dapat membuat struktur daging menjadi hancur (mushy) dan kehilangan kekenyalan alaminya. Selain itu, getah dari daun pepaya yang terlalu pekat berisiko meninggalkan jejak rasa pahit yang bisa mendominasi profil rasa bumbu utama.
“Sangat penting untuk menimbang dan menyesuaikan takarannya. Setiap bahan alami ini punya karakter rasa yang kuat. Jadi, kuncinya adalah keseimbangan agar daging tetap empuk tanpa merusak cita rasa asli masakan Anda,” pungkasnya.
Dengan memahami sains di balik tips memasak tradisional ini, kini Anda tidak perlu lagi khawatir menghadapi daging yang alot di meja makan. Cukup gunakan sentuhan enzim alami dengan bijak, dan hidangan daging kelas restoran pun bisa tersaji dari dapur sendiri.