Euforia Arsenal Juara dan Sengatan ‘Cognitive Dissonance’ Fans Rival: Begini Kata Pakar
Rabu, 27 Mei 2026 05:35 WIB
Kabarmalam.com — Panggung sepak bola Inggris akhirnya kembali memerah setelah penantian panjang selama 22 tahun. Keberhasilan Arsenal merengkuh gelar juara Liga Inggris musim 2025/2026 di bawah komando Mikel Arteta tidak hanya memicu pesta pora bagi para Gooners, tetapi juga menciptakan gelombang panas di ranah digital. Di tengah riuhnya selebrasi, muncul fenomena menarik di mana pendukung klub rival justru tampak ‘gerah’ dan sibuk melontarkan sindiran tajam di media sosial.
Pantauan di berbagai platform menunjukkan kontrasnya atmosfer. Saat pendukung Meriam London merayakan kembalinya kejayaan, sekumpulan akun mulai membanjiri lini masa dengan komentar sinis. Ada yang menyebut perayaan tersebut terlalu berisik, hingga ada pula yang merasa aneh dengan intensitas kegembiraan para fans. Fenomena ini pun memancing diskusi hangat: mengapa kesuksesan sebuah tim justru membuat pendukung tim lain merasa tidak nyaman secara emosional?
Memahami Fenomena ‘Kepanasan’ dari Sudut Pandang Psikologi
Menanggapi tensi tinggi di media sosial ini, psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa perasaan tidak suka atau ketidaknyamanan melihat rival meraih kesuksesan adalah hal yang sangat manusiawi dalam ekosistem rivalitas olahraga. Menurutnya, hal tersebut masih dianggap wajar selama masih dalam koridor gurauan atau bagian dari identitas sebagai pendukung sebuah klub.
“Ketika Arsenal akhirnya keluar sebagai juara, muncul sebuah ketidaknyamanan psikologis pada pihak rival karena realita yang terjadi tidak sesuai dengan harapan mereka. Dalam dunia psikologi, kondisi ini kita sebut sebagai cognitive dissonance,” ungkap dr. Lahargo saat berbincang dengan tim redaksi pada Selasa (26/5/2026).
Bahaya Jika Emosi Mulai Tak Terkendali
Meski rivalitas adalah bumbu penyedap dalam sepak bola, dr. Lahargo memberikan wanti-wanti agar para penggemar tetap bijak dalam mengelola emosi. Ia menekankan bahwa fanatisme yang berlebihan hingga memicu kebencian mendalam dapat berdampak buruk pada kesehatan mental seseorang. Alih-alih menjadi hiburan, sepak bola justru bisa menjadi sumber stres baru yang tidak perlu.
“Selama luapan emosi itu masih sebatas candaan antar teman atau hiburan semata, tentu itu normal. Namun, jika sudah sampai pada tahap memicu kebencian yang berlebihan, stres yang mendalam, atau perilaku toxic secara terus-menerus, itu menandakan ada masalah dalam regulasi emosi yang kurang sehat,” tegasnya lebih lanjut.
Sepak Bola Sebagai Sarana Kebahagiaan, Bukan Permusuhan
Sejatinya, sepak bola bukan sekadar menang dan kalah di atas lapangan hijau. Bagi banyak orang, olahraga ini adalah ruang untuk mencari rasa memiliki (sense of belonging), membangun harapan, serta mempererat tali persaudaraan. Dr. Lahargo mengingatkan bahwa tujuan utama menikmati pertandingan adalah untuk relasi sosial dan pelepas penat dari rutinitas harian.
Kesuksesan Mikel Arteta dalam menjaga stabilitas mental skuadnya hingga menjadi juara seharusnya bisa menjadi inspirasi bagi para fans untuk juga memiliki mentalitas yang kuat dalam menghadapi hasil pertandingan. Pada akhirnya, jangan biarkan rivalitas di lapangan hijau merusak kedamaian jiwa di kehidupan nyata. Sebab, di balik setiap gol dan trofi, esensi olahraga adalah tentang sportivitas dan kegembiraan kolektif.