Tragedi Daycare Umbulharjo: Pakar Ungkap Cara Bijak Pulihkan Trauma Psikis pada Buah Hati
Senin, 27 Apr 2026 19:35 WIB
Kabarmalam.com — Kasus dugaan kekerasan yang terjadi di sebuah tempat penitipan anak atau daycare di kawasan Umbulharjo, Kota Jogja, baru-baru ini telah mengguncang publik. Penggerebekan yang dilakukan pihak kepolisian mengungkap tabir gelap mengenai perlakuan tidak layak terhadap anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan. Di balik proses hukum yang tengah bergulir, ada ancaman nyata yang membayangi masa depan para korban, yakni trauma psikologis yang mendalam.
Menanggapi situasi genting ini, psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi proses pemulihan mental anak. Salah satu kesalahan fatal yang sering dilakukan orang dewasa adalah meremehkan memori anak dengan memintanya untuk segera melupakan kejadian buruk yang dialami.
Jangan Paksa Anak untuk Melupakan
Menurut dr. Lahargo, pendekatan yang memaksa anak untuk “berhenti mengingat” justru bisa berisiko buruk bagi perkembangan emosional mereka. “Banyak orang dewasa berkata ‘sudah ya, jangan diingat lagi’. Padahal, secara neurologis, otak anak belum selesai memproses rasa takut yang menghimpitnya,” jelasnya saat memberikan pandangan terkait isu kesehatan mental anak.
Pemulihan trauma anak tidak bisa dilakukan secara instan. Alih-alih memberikan nasihat panjang lebar atau ceramah, kehadiran orang tua yang memberikan rasa aman dan hangat jauh lebih dibutuhkan. Keamanan emosional adalah fondasi utama agar anak merasa terlindungi kembali setelah mengalami guncangan hebat di lingkungan luar.
Validasi Emosi dan Observasi Perilaku
Langkah selanjutnya yang tidak kalah krusial adalah memvalidasi apa yang dirasakan oleh sang buah hati. Orang tua harus mampu menjadi pendengar yang baik dan mengakui emosi anak tanpa menghakimi. Hal ini akan membuat anak merasa dipahami dan perlahan-lahan berani membuka diri.
Namun, dr. Lahargo juga mengingatkan agar orang tua waspada terhadap perubahan yang tidak terucap. “Terkadang anak belum memiliki kosakata yang cukup untuk bercerita, tetapi tubuh dan perilakunya sudah ‘berbicara’. Observasi sangat penting di sini,” tambahnya. Ia menyarankan agar orang tua menghindari interogasi yang berlebihan atau menanyakan detail kejadian secara berulang, karena hal tersebut justru bisa memperberat tingkat distres pada anak.
Mengenali Sinyal Bahaya
Para orang tua perlu mengenali gejala trauma yang masuk dalam kategori berat dan membutuhkan penanganan profesional dari psikolog anak atau psikiater. Beberapa tanda yang harus diwaspadai antara lain:
- Ketakutan yang menetap dan sulit diredakan.
- Gangguan tidur atau mimpi buruk yang terus berulang.
- Tantrum yang meledak-ledak secara tidak wajar.
- Perubahan perilaku signifikan yang berlangsung lebih dari beberapa minggu.
Menutup penjelasannya, dr. Lahargo memberikan sebuah renungan yang menyentuh bagi setiap orang tua. Ia mengingatkan bahwa trauma pada anak seringkali tidak muncul dalam bentuk tangisan yang keras. Sebaliknya, trauma hadir dalam kesunyian—lewat rasa takut yang berlebihan, kegelisahan saat tidur, dan senyum manis yang perlahan-lahan menghilang dari wajah mereka.
Kasus di Jogja ini menjadi alarm keras bagi sistem pengawasan perlindungan anak di Indonesia, mengingat data menunjukkan masih banyak daycare yang beroperasi tanpa izin resmi, sehingga standarisasi pengasuhan dan keamanan anak masih menjadi tantangan besar di negeri ini.