Awas Kontaminasi Bakteri! Ini Alasan Mengapa Daging dan Jeroan Kurban Wajib Dipisah
Rabu, 27 Mei 2026 12:34 WIB
Kabarmalam.com — Momen Hari Raya Idul Adha selalu diiringi dengan tradisi berbagi keberkahan melalui pendistribusian hewan kurban. Namun, di balik antusiasme tersebut, seringkali aspek keamanan pangan luput dari perhatian. Salah satu kebiasaan yang masih mendarah daging di masyarakat adalah mencampur daging segar dengan jeroan dalam satu wadah yang sama demi alasan praktis.
Padahal, tindakan sederhana ini menyimpan risiko kesehatan yang serius. Mencampur kedua jenis bahan ini dapat memicu kontaminasi bakteri secara masif, yang pada akhirnya dapat merusak kualitas daging kurban dan membahayakan kesehatan para penerimanya.
Memahami Karakteristik Jeroan: Mengapa Begitu Berisiko?
Jeroan memiliki sifat biologis yang sangat berbeda dibandingkan dengan daging otot. Bagian seperti usus, babat, dan lambung hewan—atau yang sering disebut sebagai jeroan hijau—berhubungan langsung dengan saluran pencernaan. Area ini merupakan tempat bernaungnya berbagai jenis mikroorganisme dan sisa kotoran hewan.
Drh Ira Firgorita, Ketua Kelompok Substansi Pengawasan Keamanan Produk Hewan dari Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kementerian Pertanian, menekankan pentingnya pemisahan ini sejak dini. Dalam sebuah edukasi daring yang digelar Badan POM, ia menjelaskan bahwa pemisahan harus dilakukan sejak proses distribusi hingga penyimpanan di rumah.
“Daging dan jeroan itu idealnya dipisah. Bahkan, kita perlu membedakan antara jeroan merah (seperti hati dan jantung) dengan jeroan hijau yang memiliki risiko kontaminasi jauh lebih tinggi,” ungkap drh Ira.
Bahaya Nyata Kontaminasi Silang
Salah satu ancaman terbesar dari pencampuran ini adalah kontaminasi silang. Jeroan cenderung menghasilkan cairan atau lendir yang mudah berpindah ke permukaan daging yang bersih. Cairan ini membawa jutaan kuman yang tidak kasat mata.
Berdasarkan studi yang dirilis dalam Journal of Advanced Veterinary Research tahun 2024, populasi bakteri dari keluarga Enterobacteriaceae ditemukan jauh lebih tinggi pada jeroan dibandingkan pada daging otot. Kelompok bakteri ini mencakup patogen berbahaya seperti:
- Escherichia coli: Penyebab utama diare dan gangguan pencernaan akut.
- Salmonella: Bakteri yang bisa memicu demam tifoid dan keracunan makanan serius.
Risiko ini akan berlipat ganda jika bahan makanan dibiarkan terlalu lama berada di suhu ruang, yang merupakan kondisi ideal bagi bakteri untuk berkembang biak dengan cepat.
Langkah Bijak Mengolah Hasil Kurban
Untuk memastikan kesehatan masyarakat tetap terjaga, ada beberapa langkah preventif yang sangat disarankan oleh para ahli veteriner:
- Rebus Jeroan Hijau Terlebih Dahulu: Sangat disarankan bagi panitia kurban untuk merebus jeroan hijau sebelum dibagikan. Langkah ini efektif mematikan bakteri permukaan sebelum sampai ke tangan warga.
- Gunakan Wadah Terpisah: Pastikan daging, jeroan merah, dan jeroan hijau berada di kantong plastik atau wadah yang berbeda total.
- Segera Masukkan ke Pendingin: Jangan tunda untuk menyimpan daging di dalam freezer jika tidak segera dimasak. Pastikan suhu penyimpanan tetap terjaga untuk menekan pertumbuhan mikroba.
- Perhatikan Kebersihan Alat: Jangan gunakan talenan atau pisau yang sama untuk memotong jeroan dan daging tanpa dicuci bersih terlebih dahulu menggunakan sabun.
Dengan pemahaman yang benar mengenai cara penanganan bahan pangan, kenikmatan menyantap hidangan khas Idul Adha tidak akan berujung pada masalah kesehatan seperti kolesterol tinggi yang diperparah oleh infeksi bakteri. Mari kita mulai kebiasaan sehat dengan memisahkan daging dan jeroan demi kualitas hidup yang lebih baik.